Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 297)

Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 297)

Hanya untuk Putriku

Oleh: Siti Nurhayati

Part 7.

Mawar berusia dua puluh dua tahun, rambutnya ikal berwarna hitam pekat. Wajahnya oval, hidungnya mancung dan matanya bulat. Tidak terlalu tinggi, tidak juga pendek. Badannya dulu ramping namun sekarang perutnya makin membuncit dan tubuhnya mulai melar karena tengah berbadan dua. Sebagaimana wanita di desanya, pakaian Mawar adalah atasan blus kemudian mengenakan kain sarung batik yang diikatkan di perut.

Wanita mengenakan atasan lengan pendek kemudian berkain sarung adalah pemandangan yang sangat umum. Kemanapun mereka pergi, kostumnya seperti itu. Mirip wanita Madura. Mengangkat barang di atas kepalanya dengan bersarung ria. Namun sekarang ini sudah banyak perempuan muda mengenakan rok atau celana, sedangkan yang tua banyak yang bergamis meskipun masih ada juga yang tetap berkain sarung.

Melati dan Mawar hanya selisih dua tahun. Jadi usia Melati adalah dua puluh tahun. Hanya saja Melati melangkahi kakaknya, menikah mendahului kakaknya dengan Nurdin seorang perangkat desa yang usianya selisih tujuh tahun lebih tua.

Nurdin sebenarnya masih ada hubungan kerabat dengan keluarga pak Nirwan, ayah Mawar dan Melati. Ayah Nurdin menikahi seorang wanita yang berasal dari suku pak Nirwan. Jika dihitung dari nasab, mereka masih saudara dari satu kakek buyut.

Pagi itu saat mereka sedang menikmati teh pagi, tetiba Melati tanpa mengiraukan perasaan suami dan juga Mawar menyampaikan kepada epa dan ema serta abangnya bernama Haiban bahwa Mawar telah berhenti bulanan sejak bebarapa bulan. Dengan kata lain kakaknya hamil. Tentu saja semua terkejut dan serasa tidak percaya dengan apa yang disampaikan Melati.

“Jaga mulut kamu Melati. Ngomong sembarangan. Apakah kamu sadar dengan yang baru saja kamu ucapkan?” bentak pak Nirwan dengan perasaan tidak suka.

Tetiba suasana pagi menjadi tegang. Wajah meraka semua menjadi merah padam karena menahan rasa tidak nyaman. Melati yang memang sudah memendam rasa tak suka pada kakaknya semakin berani saja dengan mengatakan, “Maaf epa...tapi apa yang saya katakana benar adanya. Saya tidak bohong. Belakangan kak Mawar sering mual dan muntah. Lihat saja perutnya semakin buncit.”

Mawar yang selesai menghidangkan teh, pisang goreng dan juga singkong rebus, seketika menangis dan masuk kamar. Perasaan sakit atas sikap Melati dan juga sesak di dada karena merahasiakan sesuatu yang berbahaya dangat menyiksa batinnya. Emanya langsung menyusul ke kamarnya kemudian memegang perutnya.

“Jadi benar yang dikatakan adikmu itu hah? Perutmu makin besar. Sudah berapa bulan kamu tidak haid Mawar?” tanya emanya penuh penasaran

Keadaan di rumah keluarga Nirwan menjadi gaduh. Tetangga kiri kanan pun segera mengetahui. Kecurigaan bebarapa ibu tetangga yang melihat Mawar sering muntah dan sering membeli buah kedondong di warung tetangga kini terjawab, bahwa benar Mawar tengah berbadan dua. Berita itu dalam sekejap terdengar di seantero desa. Bahkan bapak besar yang tinggal di pulau seberang yang kebetulan sedang pulang kampung pun juga mendengar. Beliau adalah bapak haji Sulhan yang menjadi guru bertahun-tahun di sana.

Haiban pun tak kalah marahnya mendengar adiknya yang masih gadis namun tengah mengandung segera menarik tangan Mawar untuk keluar kamar dan duduk di ruang keluarga untuk ditanya lebih jauh. Mawar yang berurai air mata hanyak mengikuti saja tarikan tangan abangnya yang tengah emosi. Dia tidak kuasa untuk memberontak. Bom waktu kini telah meledak.

Rumah pak Nirwan tetiba didatangi banyak orang. Mereka kepo dengan apa yang terjadi. Mereka ingin mendengar pengakuan Mawar. Jika benar dia hamil, lantas siapa ayah janin yang di kandungannya. Nurdin hanya diam saja menyaksikan Mawar diadili sedemikian rupa. Dalam hatinya dia tidak tega terhadap Mawar namun dia juga tidak berdaya harus berbuat apa.

Mawar yang duduk di kursi hanya bisa menangis sambil menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya dengan suara yang memelas. Saat abangnya membentak agar menjawab apakah benar dia hamil dan siapa lelaki yang telah berbuat noda itu, Mawar bukan menjawab namun tangisnya semakin keras tanpa bisa berkata-kata.

Abangnya semakin emosi lantas menyiramkan air ke kepalanya agar dia mau menjawab. Kemudian Mawar berteriak, “Iya saya hamil. Puas kalian?”

Mendengar itu abangnya malah manampar wajah Mawar. “Dasar wanita jalang tidak tahu malu. Dengan siapa kamu melakukan perbuatan dosa itu hah?” Demikian kata-kata yang keluar dari mulutnya sambil memelototi Mawar.

Nurdin tetiba berdiri dan menghadap Haiban, “Maafkan saya bang Haiban...sayalah lelaki yang berdosa itu. Yang telah membuat Mawar berbadan dua. Saya siap bertanggungjawab.” Diapun bersimpuh memohon ampun pada semuanya agar memaafkan dirinya dan juga Mawar.

Mengetahui hal itu, orangtua Mawar hanya bisa menahan marah dan malu lalu menangis sejadi-jadinya.

Melati kemudian teriak, “Saya tidak percaya suamiku yang telah melakukan ini. Dia itu suami setia dan soleh. Tidak mungkin dia melakukan itu. Saya tidak terima kalau saumiku yang harus bertanggungjawab. Nurdin adalah suamiku dan akan tetap menjadi suamiku selamanya. Saya tahu diam-diam kak Mawar memang menyukai suamiku, namun saya percaya suamiku tidak pernah meladeninya.” Kemudian Melati memeluk suaminya dan menangis sejadi-jadinya.

Tak lama bapak besar mereka, bapak haji Sulhan pun datang ke rumah adiknya. Beliau kemudian masuk ke rumah adiknya. Belaiu sangat berwibawa. Sehingga saat beliau berbicara semua mendengarkan dengan seksama. “Mengapa kalian ribut-ribut begini? Kalian ingin memecahkan masalah atau ingin membuat masalah menjadi lebih besar? Berpikirlah yang jernih sehingga jalan keluar bisa didapat. Bukan dengan marah-marah begini.”

“Hei kalian yang sedang berkerumun di luar, pulanglah ke rumah masing-masing. Teruskan pekerjaan kalian,” ucap pak Sulhan di depan pintu menyuruh orang-orang untuk bubar.

Di antara meraka ada yang provokasi, “Mawar harus di usir dari desa ini pak haji. Dia telah mengotori desa ini dengan berbuat zina.”

Dia berhasil memprovokasi sehingga orang-orang berteriak, “Iya. Usir Mawar dari desa ini. Jika tidak maka desa ini akan sial. Tuhan tidak akan mengirim ikan-ikan ke para nelayan desa ini.”

Bersambung.

Maguwoharjo, 02/04/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post