Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 299)
Hanya untuk Putriku
Oleh: Siti Nurhayati
Part 9.
Sore itu angin lumayan bersahabat, sehingga kapal yang membawa Mawar tidak terlalu bergoyang. Baru kali itu juga Mawar naik kapal ke luar pulaunya. Selama ini hanya bisa melihat perahu dan kapal yang lewat, dari rumahnya yang memang dekat pantai. Sekedar naik perahu, pergi ke pasar yang berada di pulau yang paling dekat pun dia tidak pernah berkesempatan. Sehingga tidak heran dia agak pusing dan mual berada di dalam kapal. Bunyi mesin kapal yang keras yang memekakkan telinga juga membuatnya semakin tidak nyaman. Melihat Mawar yang seperti menderita karena suasana kapal yang baru pertama kali dia alami membuat istri kak Sulhan peduli dan merasa kasihan. Dia memberinya minyak angin untuk dioleskan diperutnya untuk mengurangi ketidaknyamanannya.
Setelah mengolesi perutnya dengan minyak angin, Mawar berusaha untuk memejamkan mata dan mencoba tidak menghiraukan kiri kanannya. Dia bersandar ke kursai berusaha rileks sehingga dia bisa sekedar melupakan apa yang menimpanya dirinya dengan tidur. Mungkin karena lelah dan terkena angin laut yang adem yang masuk lewat sela-sela jendela dan mengenai tubuhnya, tak lama Mawar tertidur.
Sekitar setengah jam Mawar tertidur. Saat terjaga ternyata kapal belum juga tiba di pelabuhan kabupaten Flotim. Setelah tiga puluh menit berlalu, kapal telah sampai di pelabuhan. Tak lama kapal bersandar dan penumpang pun segera turun.
Suasana di pelabuhan sungguh ramai. Banyak kapal besar dan kecil. Kapal yang sedang menunggu dan mengantar penumpang antar pulau. Pak Sulhan telah turun terlebih dahulu. Beliau menunggu istri dan Mawar turun dari kapal. Dengan hati-hati akhir semua penumpang sudah turun termasuk Mawar.
Mereka istirahat dulu sejenak di sebuah warung di sekitar Pelabuhan sekedar menghilangkan penat setelah dua jam naik kapal. Pak Sulhan memesan the panas manis tiga gelas. Mereka masih harus menyambung dengan armada darat untuk sampai ke rumah pak Sulhan. Orang sana menyebutnya oto. Sebenarnya adalah truk yang dimodifikasi menjadi kendaraan seperti bis. Tidak jarang para penumpang pria naik di atas truk. Pendek kata jika naik oto itu ngrei-ngeri sedap. Namun ada juga yang bis asli bukan modifikasi. Setelah hilang penat, pak Sulhan mengajak mawar dan istrinya untuk naik oto yang sudah penuh penumpang. Mereka bertiga lantas naik oto tersebut. Ini juga pengalaman pertama bagi Mawar naik oto.

Jalan menuju tempat pak Sulhan memang sudah aspal. Namun jalan itu tidak selebar jalan-jalan di pulau Jawa. Terkadang saat harus berpapasan salah satu kendaraan harus berhenti dulu. Medannya cukup berbahaya. Berkelok-kelok, bertebing dan membelah pulau. Terkadang ketemu pinggir laut dan jika sopirnya tidak hati-hati bisa saja terjun ke laut. Namun umumnya adalah sopir yang sudah sangat mengenal medan dan terampil. Setelah menempuh jalan darat akhirnya mereka sudah sampai di tempat bapak besar Mawar mengabdi sebegai guru negara.
Pak Sulhan turun dahulu, terus disusul oleh Mawar dan istrinya. Setelah membayar ongkos mereka bertiga, oto terus melanjutkan perjalanan ke terminal. Setelah berjalan dari jalan raya sekitar setengah kilo meter, akhirnya mereka tiba di rumah. Mawar terlihat pucat dan kelelahan.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi...,” pak Sulhan mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam... Alhamdulillah abah mama sudah pulang,” ucap Wati putri bungsu yang baru kelas dua SMP sambil mencium tangan pak dan bu Sulhan.
“Kakakmu pada di mana?” tanya pak Sulhan pada Wati.
Tak lama dua kakaknya keluar dari kamar. Mereka adalah Ilham kelas satu SMA dan Hilmi kelas tiga SMA. Ada lagi satu kakaknya tertua setelah tamat pondok pesantren di Jawa Timur lanjut kuliah di Yogyakarta. Setelah bersalaman, mereka membawa barang bawaan masuk. Sebelumnya mereka diberitahu tentang Mawar anak paman di kampung yang akan tinggal bersama mereka.
Mawar kemudian diminta istirahat dulu karena kelelahan dan juga masuk angin. Mawar langsung tiduran di kamar dekat dapur. Karena belum salat maghrib isa, maka setelah rasa pusing dan mual hilang, Mawar lantas ke kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya. Kebetulan letaknya bersebalahan dengan dapur.
Bu Sulhan telah menyiapkan makan malam. Selepas menunaikan salat maghrib isa yang dilaksanakan secara jama’ takhir di kamarnya, pak Sulhan menyuruhnya makan malam dengan lauk ikan tongkol goreng, sambel teri dan sayur bening daun sawi. Saat semua kumpul di meja makan, pak Sulhan mulai bicara tentang mengapa Mawar harus tinggal bersama mereka. Hal ini penting dilakukan agar semua anaknya paham dan juga ikut melindungi Mawar yang terzalimi.
“Wati, Ilham dan Hilmi...mulai sekarang dan seterusnya Mawar putri paman Nirwan dari kampung nenek akan tinggal bersama kita. Meskipun Mawar adalah putri bapak kecil di kampung, namun karena umurnya di atas kalian maka kalian harus memanggilnya kakak,” ucap pak Sulhan dengan hati-hati.
Semuanya mengangguk. Dan menunggu kata-kata berikutnya yang akan disampaikan abah mereka. “Kakakmu ini sedang mengandung. Jika kelak anaknya lahir kita akan menyayanginya dengan sepenuh hati. Nanti anaknya akan memanggil Wati bibi dan memanggil Ilham dan Hilmi paman,” lanjut pak Sulhan. Namun saat hendak melanjutkan bahwa mawar itu mengandung di luar nikah sempat ragu apakah harus disampaikan atau dilewati saja.
Mawar hanya diam saja. Terkadang mengangguk atau sedikit tersenyum. Dalam hatinya bersyukur bahwa ada bapak besarnya yang berpendidikan lebih tinggi dibanding epanya yang telah menyelamatkan masa depannya. Lebih bersyukur lagi karean keluarganya juga menerima kehadirannya dengan senang hati. Tapi Mawar juga menunggu apakah pak Sulhan akan memberitahukan sekalian tentang kehamilannya atau menunggu waktu saat semuanya siap. Ternyata Wati yang bertanya.
“Kak Mawar tengah mengandung berapa bulan? Lalu di mana calon ayahnya kenapa tidak ikut ke sini?” tanya Wati dengan polosnya.
Bersambung.
Maguwoharjo, 04/04/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
