Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 301)
Toko kelontong. SatuBanten.com

Hanya untuk Putriku - Cerbung (Tamugusi ke - 301)

Hanya untuk Putriku

Oleh: Siti Nurhayati

Part 10.

Mendengar Wati bertanya seperti itu, Mawar tentu saja tidak begitu saja menjawab pertanyaannya. Dia bahkan bingung harus bagaimana. Dia hanya tersenyum dan seolah memberi isyarat pada pak Sulhan harus menjawab apa. Melihat situasi yang tidak membuat nyaman Mawar pak Sulhan langsung menetralkan.

“Dengar Wati...kakakmu itu tengah mengandung kira-kira jalan enam bulan. Jika sehat dan lancar sekitar tiga bulan lagi bakalan lahiran. Kita doakan saja yah agar semuanya baik-baik saja,” pak Sulhan mencoba memberi pengertian. Sedangkan bu Sulhan hanya mengangguk saja.

“Kenapa ayah calon bayi tidak ikut ke sini abah?” tanya Wati masih penasaran.

Kedua kakaknya hanya diam saja, tidak cerewet seperti Wati. Kemudian abah mereka menjawab dengan hati-hati.

“Ayahnya sedang ada masalah dengan keluarganya yang perlu diselesaikan di kampung. Biarlah nanti kalau masalahnya cepat selesai mungkin baru menyusul atau bagaimana kita lihat nanti. Yang penting biarkan kak Mawar tenang di sini. Sekarang sudah malam, kalian harus istirahat. Silakan kembali ke kamar masing-masing. Abah dan mama juga capek. Terlebih kakakmu pasti sagat capek dan membutuhkan istirahat segera,” ucap pak Sulhan mengakhiri obrolan malam itu.

Di dalam kamar, Mawar berbaring di atas dipan yang tidak terlalu besar. Namun itu sudah sangat lumayan dibanding kamarnya sendiri di kampung. Mawar mencoba memejamkan mata, namun rasa kantuk itu seakan hilang. Kejadian di kampung tadi pagi seakanbterputar kembali seperti video. Bagaimana kakaknya menyiramkan air ke kepalanya, saat memaksanya untuk mengatakan dengan siapa dia yang melakukan itu hingga harus berbadan dua. Ingat Melati yang membongkar tentang dirinya yang tengah mengandung. Ingat tatapan Nurdin saat melepas kepergiannya. Semuanya yang menyakitkan satu per satu muncul di kepalanya. Hal itu membuatnya semakin sakit di dalam lubuk hatinya. bButiran-butiran bening meleleh dari kedua netranya dan membasahi bantal yang sedang untuk mengganjal kepala.

Di kamar yang berbeda yang berukuran tiga kali empat meter dengan dinding yang dicat krem, dan lampu yang temaram bu Sulhan berbicara pada suaminya tentang Mawar ke depannya. Sambil berbaring di tempat tidurnya yang berukuran panjang dua meter dan lebar seratus empat puluh senti meter, kasur kapuk dan sprei batik, bu Sulhan bertanya, “Nanti jika ada yang bertanya tentang Mawar dan kehamilannya, kita harus menjawab apa abah? Walau bagaimana pasti nanti aka nada yang bertanya. Kita mesti menjawab apa? Bukan mama keberatan menampung Mawar di rumah, hanya bingung saja jika tetangga pada bertanya.”

“Jawab saja bahwa itu keponakan abah. Sedang ada masalah dengan ayah si bayi dan keluarganya sehingga diselamatkan untuk sementara di rumah kita,” jawab pak Sulhan dengan santai lantas miring memeluk guling sambil mengajak bu Sulhan juga istirahat.

*****

Rumah pak Sulhan tidak jauh dari sekolah tempatnya mengabdi. Pak Sulhan adalah guru Pendidikan Agama Islam di sebuah SMP Negeri. Untuk menambah penghasilan, bu Sulhan membuka toko untuk keperluan sehari-hari. Karena anak empat semua sekolah dan ada yang kuliah di Jawa, jika hanya mengandalkan gaji PNS rasanya kurang, maka harus mencari tambahan penghasilan. Bu Sulhan juga pandai membuat kue yang juga dijual di tokonya.

Mawar memulai hidup baru bersama keluarga pak Sulhan. Dia harus beradaptasi dengan keluarga baru yang memberikan perlindungan untuk diri dan juga janin yang di kandungnya. Sebagai orang yang telah ditolong, tentu saja Mawar harus tahu diri dengan cara membantu semua pekarjaan rumah di keluarga pak Sulhan semampu yang dia bisa kerjakan.

Pak dan bu Sulhan serta anak-anaknya memperlakukan Mawar dengan sangat manusiawi. Bukan karena dia ikut sehingga keluarga pak Sulhan, lantas mereka memperlakukannya sebagai seorang pembantu rumahtangga. Kalau pun membantu pekerjaan rumah itu hal yang wajar. Bahkan bu Sulhan mengajarinya ketrampilan membuat berbagai jenis kue, baik kue basah maupun kue kering. Diajarinya juga untuk menjaga tokonya sehingga kalau ada orang yang membeli kebutuhan, Mawar bisa melayaninya dengan baik. Sungguh mulia hati pak dan bu Sulhan. Mereka benar-benar menolong dengan setulus hati. Bahkan mereka berprinsip kelak anak Mawar lahir akan diperlakukan sebagai cucu pertamanya.

Mawar adalah gadis yang mudah beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Dia mudah belajar. Apa yang diajarkan oleh pak dan bu Sulhan diresponnya dengan baik. Keluarga pak Sulhan menjadi semakin sayang dan bahagia dengan kehadirannya. Mawar bukan hanya diberikan tempat tinggal dan juga makan, namun juga dicukupi keperluan hidupnya termasuk diberi uang untuk ditabung. Benar-benar saling melengkapi. Keluarga pak Sulhan terbantu, Mawar juga terbantu. Simbiosis mutualisma.

Pagi itu bu Sulhan pergi belanja ke pasar, pak Sulhan pergi mengajar dan anak-anak semua ke sekolah. Tinggal Mawar seorang diri di rumah. Dia seperti biasa menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah mencuci pakaian anggota keluarga dengan mesin cuci dan menjemur di halaman belakang rumah, ia kemudian menjaga toko sambil potong sayuran yang akan dimasak untuk makan siang. Ada seorang ibu tetangga pak Sulhan yang hendak belanja.

“Nona...saya mau beli terigu, minyak goreng dan telur,” ucap ibu di toko bu Sulhan.

“Iya ibu, sebantar saya ambilkan.” Ucap Mawar sambil berdiri kemudian menuju barang yang dimaksud.

“Ibu butuh berapa untuk terigu, minyak dan telor?” tanya Mawar yang siap melayani ibu itu.

“Terigu satu kilo, telor setengah kilo dan minyak goreng setengah liter ya,” jawab ibu itu.

Mawar dengan cekatan melayani ibu itu.

“Ibu lagi di mana tidak kelihatan?” tanya ibu itu sambil menyelidik.

“Ibu lagi belanja di pasar bu. Ada bebarapa barang yang kosong jadi ibu harus mengulak di pasar. “Sudah cukup ini saja atau masih ada yang lain?” tanya Mawar

“O iya gula pasir setengah kilo ya,” jawab ibu itu cepat.

“Ini bu belanjaannya. Total uang yang harus dibayar adalah lima puluh ribu rupiah,” ucap Mawar.

“Iya Nona... tapi ini uangnya cuma ada tiga puluh ribu. Jadi kurangnya dua puluh ribu. Tolong dicatat ya nona,” ucap ibu itu sambil menyerahkan uang dua puluh ribu dan sepuluh ribu.

“Iya bu... tapi ini catatan hutang ibu sudah lumayan banyak. Jadi usahakan dilunasi dulu ya bu,” ucap Mawar mengingatkan ibu yang suka ngutang itu.

“Iya. Tidak usah khawatir. Nanti kalau ada uang segera dilunasi,” ucap ibu itu seperti tidak senang diingatkan Mawar.

Wulan mengelus perutnya yang semakin membuncit sambil menatap ibu itu berlalu dari toko. Ia bergumam semoga kelak anaknya tidak suka ngutang.

Bersambung.

Maguwoharjo, 06/04/2021

Sumber gambar: SatuBanten.com, LIBURKU.COM

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post