Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Kartini dan Literasi (Tamugusi ke - 316)
Kartini. TribunNews.com

Kartini dan Literasi (Tamugusi ke - 316)

Kartini dan Literasi

Oleh: Siti Nurhayati

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia terutama kaum perempuan memperingati Hari Kartini. Mengapa kaum hawa yang memperingatinya? Tentu sebagai ungkapan terimakasih tak terhingga atas perjuangannya terhadap emansipasi wanita. Dengan keberhasilannya maka terlihat bahwa perempuan memiliki hak yang sama terhadap kemajuan bangsa bersama kaum laki-laki.

Bisa dibayangkan jika tidak ada seorang Kartini yang berjuang agar perempuan juga belajar literasi sebagai mana laki-laki, tentu tidak akan dijumpai kaum perempuan berkedudukan yang sama dengan laki-laki di ranah publik. Kaum perempuan hanya akan berkutat antara dapur, sumur dan kasur atau ada istilah lain yakni hanya bisa macak atau dandan, masak dan manak.

Bersyukur bahwa Allah menghadirkan Kartini. Seorang perempuan Jawa di Jepara yang lahir dari seorang selir bupati saat itu. Dia harus menjalani tradisi yang sangat merugikan kaum perempuan. Padahal ia juga ingin seperti kakaknya yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Dia menyadari betapa pentingnya Pendidikan yang mengangkat derajat manusia sebagai khalifatullah fil ard atau wakil Tuhan untuk memakmurkan bumi.

Perempuan kodratnya adalah melahirkan menjadi seorang ibu. Ibu adalah sekolah pertama bagi manusia. Seorang ibu merupakan perpustakaan untuk putra putrinya mengenal dunia. Oleh karena itu Kartini berpandangan bahwa sebagai pendidik pertama, kaum ibu haruslah pandai dalam segala hal agar melahirkan generasi yang terdidik, yang berkarakter mulia.

Kartini sadar betul akan pentingnya Pendidikan bagi kaum perempuan. Oleh karena itu, saat ia dipinang oleh seorang bupati Rembang pada saat itu, beliau mengajukan syarat agar diperbolehkan membuat sekolah untuk kaum perempuan. Sayangnya beliau berumur sangat pendek, beliau meninggal di usia yang masih sangat muda yakni meninggal dunia setelah kelahiran putra pertamanya.

Kartini memang meninggal di usia yang relatif muda, namun virus literasi yang ditanamkan beliau sedemikian dahsyat menyebar seantero negeri, sehingga membuat kaum perempuan bergerak untuk memandaikan dirinya dengan pandai baca tulis. Dengan mampu membaca dan menulis kaum perempuan bisa menyerap informasi yang sebanyak-banyaknya sehingga membuat mereka berdaya sedemikian rupa.

Adalah hal yang wajar saat sekarang, kaum perempuan bersekolah setinggi-tingginya sama dengan kaum laki-laki yang telah lebih dahulu berkesempatan mengenyam Pendidikan. Akibat dari Pendidikan yang bagus, kaum hawa menduduki posisi-posisi yang bagus di berbagai sektor kehidupan. Perempuan bukan saja bisa menjadi ketua RT, RW, lurah, camat dan seterusnya bahkan menteri dan juga presiden. Mustahil seorang yang tidak literat menduduki jabatan publik yang penting.

Untuk menangani suatu proyek apapun, tentu saja dibutuhkan ilmu pengetahuan dan juga ketrampilan. Akan hancur, jika seorang yang tidak kompeten diserahi sebuah proyek, apalagi proyek yang besar dan penting, menyangkut hajat hidup orang banyak. Oleh karena itu maka kaum perempuan juga belajar keras agar kompeten jika diserahi tanggungjawab terhadap proyek yang harus ditanganinya.

Kartini adalah seorang muslim yang taat, terbukti beliau telah mengamalkan Al Qur’an surat Al ‘Alaq yakni membaca. Membaca berarti berliterasi. Membaca atas nama Tuhan sang pencipta alam semesta raya. Jika manusia tidak membaca maka,dia akan senantiasa dalam kebodohan. Namun karena manusia berliterasi maka pandangannya menjadi luas, menjadi terang benderang.

Literasi adalah habis gelap terbit terang. Minal zduluamti ila nur yaitu dari kegelapan menuju terang benderang (QS. Al Baqarah ayat 257). Dengan banyak membaca maka ilmu pengetahuan menerangi hidupanya, ketrampilan menghindarkannya dari keterpurukan. Kartini bahkan minta pada kyai Soleh Darat untuk menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bisa dimengerti isi kandungannya. Dengan cahaya Al Qur'an maka hidup manusia akan terang dan tidak akan terperosok pada lubang-lubang yang membuat manusia tersesat jalan.

Mari menjadi seorang yang studious seperti Kartini, yakni menjadi manusia yang selalu haus ilmu pengetahuan, sehingga akan senantiasa membaca, memahami dan menulis apa yang telah dibacanya. Mengikat ilmu pengetahuan yang telah didapat dengan menulis agar bisa dibaca orang lain, sehingga orang lain juga mendapatkan sinar kehidupan. Selamat hari Kartini.

Maguwoharjo, 21/04/2021

Sumber gambar : TribunNews.com

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post