Mengendalikan Diri dengan Puasa (Tamugusi ke - 303)
Mengendalikan Diri dengan Puasa
Oleh: Siti Nurhayati, M.pd.
Marhaban ya Ramadhan
Setiap orang beriman sangat gembira jika Ramadhan tiba. Semua menyambut Ramadhan dengan suka cita. Hal ini karena bulan Ramadhan adalah bulan mulia, bulan yang senantiasa dirindukan, bulan yang mana semua amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya. Selain itu setan-setan yang adatnya menggoda manusia agar jauh dari jalan Allah, pada bulan itu akan dibelenggu sehingga tidak lagi menggoda manusia, kecuali jika manusia itu yang membuka belenggunya.
Hadist tentang keutamaan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan. Allah SWT telah mewajibkan kepada kalian berpuasa didalamnya, di bulan itu pintu-pintu langit akan dibuka dan pintu-pintu neraka akan ditutup, dibulan itu setan-setan diikat, di bulan itu ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa terhalang mendapatkan kebaikannya maka sungguh ia telah terhalang." (HR. An-Nasai).
Puasa Ramadhan juga mengugurkan dosa-dosa kita sepanjang kita tidak terus menambah dosa setelah terhapus, sebagaimana hadist berikut:
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sholat lima waktu dan Jum'at ke Jum'at berikutnya, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapus dosa (seseorang) di antara waktu tersebut selama ia menjauhi dosa-dosa besar." (HR. Muslim)."
Inti dari puasa atau shaum adalah imsaq yang artinya mengendalikan diri. Apabila berpuasa tetapi belum mampu untuk mengendalikan diri dari dorongan syahwat hawa nafsu, maka puasanya tidak beroleh pahala kecuali lapar dan dahaga.
Ibadah puasa yang intinya adalah pengendalian diri untuk tidak terjebak dalam perbuatan dosa yang akan merugikan baik diri sendiri maupun pihak lain, sebenarnya telah juga diperintahkan kepada umat sebelum nabi Muhammad saw, yang tidak lain tujuannya adalah meraih derajat muttaqin. Hal ini sebagaimana telah termaktub dalam Qu’ran surah Al-Baqarah ayat 183, yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa," (QS. Al-Baqarah: 183)
Jadi umat nabi-nabi sebelumnya juga diperintahkan berpuasa, hanya saja tata cara dan juga waktunya berbeda. Namun tujuan puasa itu sendiri adalah sama, yakni menahan diri untuk tidak berlaku keji dan durjana, agar menjadi insan yang unggul, yang segala perbuatannya hanya diperuntukkan kepada Allah SWT.
Bagi umat Islam puasa yang diwajibkan adalah puasa di bulan Ramadhan, bulan yang sangat mulia karena di dalamnya Allah menurunkan permulaan Al-Qur’an. Hal ini dijelaskan pada ayat berikut.
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 184)
Dari ayat di atas jelas bahwa bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk kita lebih akrab dengan Al Qur’an, yaitu dengan cara membacanya hingga khatam, memahaminya, mengamalkannya dan mengajarkannya dengan berperilaku sesuai petunjuk Al Qur’an. Apabila Al Qur’an telah benar-benar menjadi pedoman hidup, maka kita dapat membedakan antara yang haq dan yang batil, sekaligus dengan tegas mengikuti yang haq dan menghindari yang batil.
Ramadhan tahun ini, masih masa pandemi. Kita tahu sangat banyak orang yang terdampak secara ekonomi hingga bahkan sangat kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya yang pokok, yakni makan dengan standar gizi yang layak. Mereka hanya sekedar bertahan hidup dengan makan minum ala kadarnya. Adalah kesempatan bagi kita untuk lebih mengendalikan diri, menghemat pengeluaran yang tidak penting sehingga bisa menyisihkan dana infak untuk mereka yang fakir dan miskin.
Wallahu a’lambishawab
Maguwoharjo, 8/04/2020
Rujukan : Disarikan dari berbagai sumber.
Tentang penulis.
Siti Nurhayati, M.Pd. dilahirkan di Banyumas 12 Oktober 1966. Masih aktif mengajar di SMK YPKK 3 Sleman sebagai guru Bahasa Inggris dan Kepala Perpustakaan. Belakangan jatuh cinta dengan dunia tulis menulis karena menulis itu asyik dan sehat. Telah berhasil menulis buku tunggal dengan judul “Selaksa (Kumpulan Pentigraf)” dan tiga buku Antologi “Bidadari Surga itu Ibuku”, “Warna Kasih Ibu”, “Ayah Pejuang Keluarga”. Bila ingin berkontak ria bisa WA di **(censored)**atau email: **(censored)**

Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
