Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mudik Masa Pandemi  ( Tamugusi ke - 1)

Mudik Masa Pandemi ( Tamugusi ke - 1)

Bagian 1. Mendadak Terbang

Siang itu putra saya mengabarkan bahwa Lion telah menelepon bahwa Sabtu, 8 Mei 2021 tidak ada penerbangan. Hal itu terjadi lantaran pemerintah melarang bepergian dari tanggal 6 – 17 Mei 2021. Untuk itu pihak Lion menyampaikan bagi mereka yang telah pesan tiket untuk refund (uang kembali) atau reschedule (menjadwal ulang penerbangan). Jika memilih refund, uang memang bisa kembali tetapi waktunya lama. Jika memilih reschedule maka waktu terakhir penerbangan adalah besok pagi yakni tanggal 5 Mei 2021.

Saya sempat ragu, apakah akan melanjutkan perjalanan ke Larantuka atau membiarkan suami lanjut perjalanan sendiri. Kalau membiarkan suami pergi sendiri kok tega banget. Saya ragu karena begitu tiba-tiba harus ambil keputusan, padahal masih ada agenda penting dua hari ke depan. Demikian juga suami masih harus memberi kuliah walaupun on line. Namun suami telah memutuskan bahwa lanjut sesuai rencana, karena sudah menjadwalkan beberapa acara di Flores Timur.

Perjalanan ini adalah amanah dari AMKI (Asosiasi Masjid Kampus Indonesia), yakni untuk mitigasi bencana dan recovery atau mental healing terhadap para korban banjir bandang di Flores Timur. Jadi bukan sekedar mudik biasa namun karena ada misi kemanusiaan.

Saat itu juga putra saya bersama ayahnya mendatangi kantor Lion di Yogyakarta, untuk melakukan reschedule atau penjadwalan ulang. Setelah menempuh proses itu, kami mendapatkan tiket untuk penerbangan Solo – Kupang transit Denpasar sebentar. Untuk Kupang- Larantuka dari pihak Lion ragu untuk menjual tiket karena tanggal 6 Mei 2021 sudah berlaku larangan bepergian. Sayang tidak tegas sehingga meski sudah memberi seat namun saat akan dibayar mereka bilang nanti saja langsung di agen Kupang bayarnya

Sepulang dari kantor Lion menjelang maghrib. Karena tiket sudah dibeli maka mau tidak mau harus mengemas pakaian yang harus dibawa untuk dua pekan di NTT. Dan yang paling bikin enggan adalah harus membatalkan agenda yang telah dibuat. Salah satunya adalah jadwal kontrol dokter untuk mendapatkan obat. Padahal tidak boleh putus minum obat selama rawat jalan. Apa boleh buat terpaksa jadwal itu diabaikan karena harus terbang jam tujuh pagi dari bandara Adisumarmo Solo.

Sore itu juga harus rapid test antigen yang hanya berlaku dua puluh empat jam. Saya duluan membawa dua KTP untuk mendaftar di sebuah klinik tidak ajuh dari rumah. Saya sudah selesai dirapid dan sudah keluar hasilnya bahwa negative, namun suami belum juga datang. Saat suami datang sudah menjelang azan maghrib dan petugas harus istirahat untuk batal puasa dan salat maghrib. Alhamdulillah sebelum azan maghrib suami datang dan dengan cepat dilayani oleh petugas. Tak lama surat keterangan rapid telah di tangan. Namun saya harus ke apotik untuk membeli obat untuk persiapan selama di NTT. Saat menerima obat, saat itu juga azan maghrib. Untuk membatalkan puasa, dari apotik menyodorkan segelas air mineral. Kami langsung pulang untuk maghriban di rumah.

Setelah makan ala kadarnya kemudian salat maghrib. Setelahnya, suami minta untuk mengeluarkan pakaian yang hendak dibawa. Dan kegiatan ini adalah yang sangat membuat malas. Harus menghitung bawa pakaian berapa untuk sekian hari. Belum lagi cukup tidak untuk masing-masing satu koper sedang. Intinya jangan sampai ada bagasi, karena mesti lapor dulu berapa berat bawaan dibawa jika melebihi ketentuan harus membayar. Pokoknya ribet, namun mau bagaimana lagi. Suka tak suka harus berkemas.

Hingga tengah malam belum kelar juga mengemas. Karena sudah sangat mengantuk akhirnya saya tidur sekitar dua jam. Jam tiga bangun, langsung persiapan makan sahur. Suami bahkan tidak tidur sama sekali. Takutnya kalau tidur malah kebablasan. Setelah makan sahur langsung mandi. Setelah salat subuh langsung diantar putraku ke bandara Adi Sumarmo Solo.

Saat di bandara yang ditanya pertama kali oleh petugas bukan tiket, melainkan surat keterangan rapid antigen. Kami juga harus mendownload aplikasi E-Hack yakni tracking online yang terhubung dengan Kementrian Kesehatan. Harus mengisi data terlebih dahulu sebelum terbang meliputi nama jenis kelamin dan seterusnya. Alamat keberangkatan juga alamat tujuan. Juga secreening kesehatan lengkap.

Akhirnya persis jam tujuh pagi pesawat pun tinggal landas menuju Denpasar. Saat terbang, tidak lama kami berdua terlelap. Dan ternyata terbangun sudah di Denpasar Bali. Ternyata penumpang yang lanjut ke Kupang tidak perlu turun, karena menggunakan pesawat yang sama penerbangan hingga ke bandara El tari Kupang. Persi pukul 11.30 WITA pesawat mendarat di Kupang dengan selamat. Alhamdulillah. Saat mau keluar dari bandara harus melaporkan dulu E-Hack. Saat di barcode telah muncul nama maka kita diijinkan untuk keluar dari bandara.

Maguwoharjo, 27/5/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post