Mudik Masa Pandemi (Tamugusi ke - 2)
Bagian 2: Penerbangan Tutup
Dengan menarik koper pakaian, berdua suami keluar dari bandara Eltari Kupang. Kami langsung menuju agen tiket Lion untuk memastikan apakah ada penerbangan dari Kupang ke Larantuka pada esok harinya. Namun sungguh kami harus menyadari bahwa esok hari sudah tanggal enam Mei yang artinya peraturan larangan bepergian mulai berlaku hingga tanggal tujuh belas Mei. Pemerintah benar-benar menutup penerbangan. Tidak ada satu pun maskapai yang berani melanggar larangan tersebut.
Kami sempat berpikir untuk mencari alternatif agar bisa menyeberang dari Kupang ke Flores Timur. Jangan sampai hingga Idul Fitri tiba, kami hanya berada di kota Kupang saja. Kupang adalah ibu kota NTT yang terletak di pulau Timor bagian barat. Sedangkan Timor Timur sudah beda negeri sejak referendum tahun Sembilan puluhan persisnya saat rezim Habibie.
Tetiba ada telepon masuk dari kakak ipar yang kebetulan sedang berada di Kupang dan hendak balik ke Flores Timur. Beliau mengabarkan bahwa sedang berada di pelabuhan ferry Bolok Kupang.
Seketika, kami mencarter taksi untuk antar ke Pelabuhan dimaksud. Takut ketinggalan kapal, maka suami bilang ke sopir agar mencari jalan yang tercepat dan hindari kemacetan kota Kupang. Sopir sudah sangat paham.
Setelah memasukkan barang bawaan ke dalam taksi, kami berdua masuk dan sopir langsung tancap gas. Mengambil jalur atas yang lumayan sepi dan jalannya bagus. Namun sungguh kota Kupang yang barusan dihantam badai Seroja sebelum Ramadhan masih terlihat bekas-bekas bencana. Banyak pohon tumbang yang hanya disisihkan di pinggir jalan. Masih ada bekas lumpur yang terbawa banjir yang telah kering dan mengeras. Setelah sekitar empat puluh menit perjalanan, kami sampai di pelabuhan ferry.
Taksi parkir di halaman pelabuhan. Kami mengeluarkan dua koper pakaian dan satu ransel berisi barang kecil dan juga laptop. Setelah membayar taksi sebesar seratus lima puluh ribu rupiah, taksi pun berlalu untuk kembali bandara. Kami kemudian masuk ke arena pelabuhan.
Sungguh di pelabuhan penuh sesak orang-orang yang akan menyeberang. Saat itu waktu menunjukkan pukul tiga belas tiga puluh WITA. Badan terasa lelah dan ngantuk, cuaca sangat terik dan rasanya haus sekali namun apa daya tidak bisa menum karena sedang berpuasa. Walaupun dibolehkan membatalkan puasa karena sedang menjadi musafir, namun sayang rasanya kalau harus batal.

Kami ditemui oleh kakak ipar yang telah menunggu sejak tadi. Juga ada beberapa mahasiswa asal kampung halaman suami yang kuliah di Yogyakarta namun telah beberap hari berada di Kupang tempat sauadar mereka yang juga hendak sama-sama mudik. Suami menyerahkan uang ke kakak ipar agar membeli tiket kapal. Saya minta adik mahasiswa untuk membeli nasi Padang untuk persiapan buka puasa dan juga makan sahur.
Setelah mendapatkan tiket @ Rp. 115.000, kami membeli dua tiket karena kakak telah membelinya terlebih dahulu, kami kemudian masuk ke ruang tunggu. Namun kami tak lagi mendapat tempat duduk karena ruangan telah penuh orang-orang yang juga sedang menunggu kapal. Walaupun ada kipas angin namun saking banyaknya orang maka di dalam ruangan sangat tidak nyaman karena panas sekali.
Saya mencari kamar kecil untuk buang air dan sekalian ambil air wudu karena belum melaksanakan salat zuhur. Namun setelah wudu, kami sama sekali tidak mendapatkan ruang walau sedikit untuk sekedar salat saja. Akhirnya kami putuskan untuk nanti salat di dalam kapal saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima belas atau jam tiga sore, kapal sudah ada, namun belum ada tanda-tanda akan memuat penumpang, penumpang yang berjubel sudah kelihatan lelah. Saat petugas mengumumkan bahwa kapal akan memuat penumpang, semua berebut masuk koridor yang mengarah ke mulut kapal ferry Ile Mandiri. Suasana seperti bukan sedang pandemi, manusia begitu banyak dan tidak bisa untuk jaga jarak aman. Semua suadh lelah ingin segera masuk kapal.
Namun yang dimuat adalah kendaraan berat. Puluhan truk dan mobil masuk ke dalam lambung kapal. Ratusan sepeda motor ditata terlebih dahulu. Kapal sudah penuh sesak dengan barang. Sedangkan orangnya hanya diperbolehkan masuk kapal per sepuluh kemudian pintu koridor ditutup. Setelah sepuluh orang masuk kapal, baru kemudian dibuka untuk keluar sepuluh orang lagi. Begitu seterusnya.
Gegara penerbangan untuk Kupang – Larantuka tidak ada maka para penumpang yang harusnya naik pesawat terbang, beralih ke kapal ferry semua. Bisa dibayangkan betapa kapal itu menjadi kelebihan muatan. Hanya bisa pasrah dan berdoa semoga semua akan baik-baik saja, aman dan selamat hingga tujuan.
Maguwoharjo, 28/05/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
