Mudik Masa Pandemi (Tamugusi ke 3)
Bagian 3. Naik Kapal Ferry Ile Mandiri
Setelah berjam-jam menunggu dan antri untuk bisa masuk ke dalam kapal Ile Mandiri, akhirnya saya dan suami bisa masuk. Kami harus melipir melewati kendaraan, barang-barang dan tentu saja para penumpang lain yang begitu banyak. Sampai ke dek atas, nyaris tidak ada tempat lagi untuk sekedar meletakkan barang dan duduk. Saya sempat berfikir sanggupkah saya dengan kondisi kapal yang seperti ini untuk menyeberang berjam-jam.
Setelah meletakkan barang bawaan di pojokkan, saya dan suami mencari tempat untuk salat jamak zuhur-asar. Kami naik ke de katas tempat para ABK untuk pinjam tempat untuk shalat. Oleh ABK kami diijinkan untuk memakai ruang ayang ada televisinya tempat para ABK biasa nonton televisi. Setelah salat kami menemui ABK untuk mencari barangkali ada tempat yang bisa disewa untuk kami tidur selama penyeberangan. Alhamdulillah ada ruang VIP yang belum dibuka.
Setelah mengetahui informasi ada ruang VIP, kami segera turun dan menunggu di depan ruang VIP yang sedang dibersihkan. Setelah pintu dibuka, suami langsung lempar jaketnya di dua tempat tidur untuk tanda bawa tempat itu sudah ada yang pesan. Saya menduduki tempat tersebut, suami mengambil koper dan ransel yang tadi diletakkan dipojok dijagain kakak ipar.
Saya merasa lega telah mendapatkan dua tempat tidur. Ruang VIP seketika langsung penuh. Ada banyak anak kecil yang nangis. Namun hal itu tidak saya hiraukan. Yang penting kami sudah bisa istirahat.
Sudah satu jam lebih kapal belum juga berjalan. Terdengar suara azan menandakan bahwa waktu maghrib telah tiba. ABK mengumumkan kepada umat Islam untuk segera membatalkan puasanya. Penumpang yang menjalankan puasa seketika membuka bekalnya untuk membatalkan puasanya. Saya dan suami membuka bungkusan nasi Padang yang dibeli saat baru tiba di Pelabuhan. Rasanya nikmat sekali setelah meneguk beberapa teguk air mineral. Alhamdulillah rasa haus dan dahaga yang kami tahan sejak siang tida, seketika hilang. Setelah makan saya menikmati jeruk yang dibeli di pelabuhan tadi.
Setelah menikmati santapan buka puasa, sekitar lima belas menit, terdengar bunyi sirine yang menandakan bahwa kapal hendak berangkat. Terasa kapal mulai melaju dan terasa ombak menabrak badan kapal.

Ruangan VIP cukup nyaman. Setelah sekitar satu jam perjalanan, ada tiga orang ABK yang minta bayaran lima puluh ribu per tempat tidur, karena kami ambil dua tempat tidur maka kami membayar serratus ribu rupiah. Hal itu tidak masalah bagi kami, daripada harus berdesak-desakan di ruang Ekonomi yang sudah habis tempat tidurnya sehingga mereka yang tidak kebagian tempat tidur harus mengisi Lorong-lorong yang sungguh sempit dan kotor.
Antar penumpang saling cerita banyak hal. Bahkan kami bertemu dengan ustad Hasan yang tinggal di Malang yang diundang oleh panitia PHBI untuk khotbah Idul Fitri di Waiwerang. Suami ngobrol hingga larut malam dengan ustad Hasan dan keluarganya juga penumpang yang lain. Saya sendiri setelah salat maghrib-isa yang dilaksnakan secara jamak langsung tidur. Saya tidak bisa shalat dengan berdiri karena goyangan kapal membuat saya tidak bisa berdiri dengan kokoh maka saya soalt dengan duduk saja. Suami jadi imam sedangkan saya jadi makmum namun posisi duduk.
Mungkin karena keberatan beban dan kapalnya juga sudah tua maka jalannya sangat pelan. Sudah berjam-jam tetapi kapalnya tidak sampai dengan cepat. Say sudah tidur lama tapi tidak segera pagi. Bahkan jam dua saya terbangun lagi dan tidak bisa tidur, akhirnya saya ambil nasi padang lagi saya makan sahur. Setelah makan sahur saya mencoba tidur lagi. Penumpang yang lain pun juga sudah terlelap.
Saya terbangun lagi pukul empat pagi saat suami hendak makan sahur. Dikira saya belum makan sahur makanya saya dibangunkan. Penumpang yang muslim yang hendak puasa semua bangun untuk makan sahur. Sedangkan yang non muslim melanjutkan kegiatan tidurnya. Setelah salat subuh, kami menunggu pagi, menikmati matahari terbit dari kapal sungguh indah.
Maguwoharjo, 29/05/2021


Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
