Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mudik Masa Pandemi (Tamugusi ke 5)

Mudik Masa Pandemi (Tamugusi ke 5)

Bagian 5. Hari Pertama di Waiwerang

Wisma Taufik adalah Wisma yang sudah cukup tua. Abah mama yang memiliki wisma tersebut sudah meninggal dunia sejak lama. Kini Wisma tersebut dikelola salah satu putranya yaitu pak Hasan.

Pak Hasan ini seumuran dengan suami saya. Suami saya sudah seperti anak oleh bapak Usman Taslim orangtua pak Hasan, karena sebelum kuliah di Jawa sempat mengabdi satu tahun mengajar ngaji di mushola dekat rumah mendiang. Oleh karena itu setiap kali di Waiwerang pasti menginap di Wisma Taufik.

Kami langsung diberi kunci salah satu kamar di wisma tersebut. Masih ada beberapa relawan yang menangani korban banjir bandang dan juga infrastruktur yang rusak yang juga menginap di Wisma tersebut. Kami pilih kamar yang ada kamar mandinya di dalam. Begitu masuk kamar dan menaruh barang-barang bawaan saya menyalakan kipas angin dan rebahan sebentar. Setelah itu langsung mandi. Rasanya sungguh sangat segar setelah tidak sempat mandi selama di kapal.

Selesai mandi, baru suami yang mandi. Saya langsung shalat zuhur-asar di kamar dengan menjamak. Sehabis shalat saya langsung tidur nyenyak banget. Terbangun sudah pukul setengah lima sore.

Saya tidak tahu kalau makan minum saya dan suami dijamin oleh pak Hasan dan istri, layaknya tamu istimewa. Oleh karena itu saya berniat untuk mencari makan dan minum untuk batal puasa.

Berdua suami, saya keluar wisma untuk sambil jalan-jalan sore mencari jajanan yang banyak dijual di kanan kiri wisma. Posisi wisma taufik sangat strategis karena dekat dermaga dan pasar Waiwerang sehingga sangat mudah untuk mandapat semua keperluan. Saya membeli sandal karena tidak membawa sandal, juga membeli paket data internet serta membeli jajanan pasar dan es buah.

Karena sudah hampir maghrib, kami jalan pulang ke wisma. Sampai di wisma saya terkejut karena sudah tersedia hidangan buka puasa yang cukup lengkap. Ada kelapa muda, puding, kue lumpur, kue talam dan roti sus.

Tak lama suara azan terdengar dari masjid jami’ Annuur yang tak jauh dari wisma. Kami menikmati buka puasa hari pertama di Waiwerang. Sangatlah nikmat bahkan sampai bingung karena banyaknya hidangan yang disediakan oleh pak Hasan dan istri.

Pertama yang saya nikmati tentu saja adalah kelapa muda. Kelapanya sangat enak, lembut dan manis. Daging kelapanya sengaja dipisahkan dari airnya. Airnya diletakkan di teko gelas. Setelah menikmati kelapa muda saya ambil kue sus. Kemudian baru saya menikmati es buah yang terlanjur saya beli.

Setelah membatalkan puasa, suami langsung shalat maghrib di mushola yang tak jauh dari wisma. Mushola tersebut adalah yang dulunya tempat suami mengajar ngaji anak-anak di sekitar pasar Waiwerang. Saya sendiri malah shalat di dalam wisma sendirian karena masih malas untuk jalan kaki ke mushola.

Setelah sahalat maghrib kami istirahat sebentar. Menjelang isa, paka Hasan meminjamkan sepeda motornya untuk kami ke masjid komplek perguruan Muhammadiyah Waiwerang yang letaknya lumayan jauh sekitar dua kilo meter dari wisma. Sudah masuk wilayah desa Lamahala. Ketua takmir masjid sekaligus imam masjid adalah pak Hasan yang punya wisma.

Pak Hasan menggunakan sepeda balap ke masjid yang sama, sedangkan kami naik sepeda motornya. Malam pertama di Waiwerang kami shalat di masjid Muhammadiyah tersebut. Suami ceramah setelah selesai shalat tarawih. Jama’ah yang hadir lumayan banyak, bahkan untuk jama’ah perempuan ada tiga shaf tidak berjarak. Saat saya menggelar sajadah dengan jaga jarak, seorang ibu malah menarik sajadah saya agar merapatkan shaf.

Selesai jama’ah dan dengar ceramah, kami sempat berfoto bersama pengurus dan beberapa jama’ah masjid. Mereka sangat gembira atas kedatangan kami dari Jawa yang kebetulan adalah anggota pimpinan pusat Muhammadiyah dan Aisyiyah. Kamudian kami pamit pulang ke wisma. Sampai di wisma ternyata sudah ada hidangan makan malam yang lauknya sangat menggugah selera yakni kepala ikan bumbu kecap. Bu Hasan sangat pandai memasak dengan aneka resep yang membuat lidah terus bergoyang.

Setelah makan malam, kami berdua ngobrol sebentar. Selepas itu tidur karena mata sudah sangat mengantuk. Saat kami terbangun sekitar pukul setengah empat. Setelah cuci muka kami buka pintu kamar. Dan ternyata, sudah terhidang makanan untuk sahur. Masha Allah, untuk makan minum benar- benar terjamin. Pak dan bu Hasan memperlakukan kami persis seperti orangtuanya dulu saat masih ada. Kami dperlakukan seperti keluarga.

Selesai makan sahur, tak lama terdengar suara azan subuh. Suami langsung lari ke mushola, tapi saya masih malas maka saya shalat subuh di wisma saja. Saya tidur lagi setelah tadarus Qur’an.

Maguwoharjo, 31/05/2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post