Heboh Rapid Test
Heboh Rapid Test
Oleh: Siti Nurhayati
Mendengar ada sekolah, kantor, bahkan puskesmas diisolasi adalah biasa selama pandemic covud-19. Namun saat hal tersebut terjadi di tempat kerja kita menjadi kehebohan tersendiri.
Adalah sekolah tempat saya bekerja yang berlokasi di zona merah covid-19 di kabupaten Sleman Yogyakarta, ada salah seorang kawan yang dinyatakan positif covid-19 berdasarkan hasil test PCR. Bukan hanya sendiri yang positif melainkan seluruh anggota keluarganya. Hal itu dikabarkan melalui WAG sekolah. Respon anggota grup adalah mendoakan agar yang bersangkutan beserta keluarganya segera diberikan kesehatan pulih seperti sedia kala.
Kebetulan hari ini saya ada jadwal piket PPDB di sekolah. Dengan tenang saya ke sekolah kemudian membuka laptop. Tentu saja menerapkan prosedur kesehatan. Sebelum duduk dan membuka laptop, saya mencuci tangan dan jaga jarak dengan teman yang juga piket, serta tidak lupa memakai masker. Handsanitizer juga selalu saya bawa.
Tak lama ibu kepala sekolah datang ke sekolah. Kebetulan rumah beliau hanya berseberangan dengan sekolah. Begitu tiba di sekolah aura wajahnya sangat tidak bagus. Nampak ada kepanikan. Beliau langsung minta taplak meja agar dilepas dan dicuci. Padahal semua meja kursi dan ruangan telah disemprot disinfektan, namun tetap saya lepas taplaknya untuk dicuci.
Beliau mulai bicara dengan nada penuh kecemasan. Beliau cerita bahwa saat menerima pesan WA dari rekan guru yang positif covid-19 semalam ada rasa was-was dan merinding. Apalagi tetangga beliau ada yang meninggal dunia dua orang dalam satu keluarga juga lanataran Covid-19. Kemudian saya tanggapi agar jangan terlalu cemas dan takut. Rileks saja yang penting selalu menerapkan prokes dan mohon pada Allah agar terhindar dari segala mara bahaya.
Masih lagi beliau cerita bahwa kemarin ngobrol intensif membahas sesuatu dengan kawan yang positif covid-19. Lalu beliau berjalan mondar mandir kemudian duduk lagi. Beliau juga bertanya siapa saja yang ikut rapat pleno kenaikan kelas. Kemudian saya bilang bahwa semua hadir kecuali ada dua guru yang absen. Beliau terlihat tambah cemas. Ada ketakutan dan kebingungan karena tak lama lagi akan ada pembagian raport dan setelah itu akan ada validasi kurikulum satuan pendidikan untuk tahun ajaran yang berikutnya.
Saya mengusulkan bahwa sebaiknya semua guru dan karyawan melakukan tes untuk memastikan apakah positif atau negatif covid dengan biaya ditanggung oleh sekolah. Saya juga bilang bahwa sebelum pleno saya tes Genose dan hasilnya negatif. Untuk rapid tes Antigen masih lumayan tinggi biayanya. Terakhir saya tes biayanya dua ratus sepuluh rupiah. Jika memungkinkan tes Genose karena biaya lebih murah. Sambil mendiskusikan tentang tes covid terlihat bahwa kecemasan semakin nampak di wajah ibu kepala yang kebetulan usianya sudah tidak muda walau masih terlihat energik dan juga cantik.
Sebenarnya saya sedang mengerjakan raport dengan laptop, namun saya merasa harus mengatasi kecemasan ibu kepala. Akhirnya saya menawarkan diri untuk mengantar beliau ke klinik yang menyediakan tes Antigen. Kebetulan tidak jauh dari sekolah hanya sekitar satu kilo meter saja. Kebetulan beberapa saat yang lalu saya juga tes di sana.
Setelah saya tawarkan untuk antar beliau, dengan senang hati beliau mau. Karena KTPnya ketinggalan di rumah, maka saya menunggu beliau ambil KTP untuk mendaftar tes. Tak lama beliau sudah balik lagi ke sekolah dengan juga membawa helm. Saya boncengkan beliau ke klinik dimaksud. Ternyata lumayan banyak yang antri.
Beliau langsung mendaftar. Ternyata langsung mendapat pelayanan. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit keluar hasilnya. Dan ternyata hasilnya negatif. Setelah mengetahui bahwa hasilnya negative, terlihat aura wajahnya menjadi sangat cerah dan kecemasan hilang seketika. Surat keterangan hasil tes difoto dan diunggah di grup WA sekolah. Semua mengucap Alhamdulillah.
Kepala sekolah melapor ke dinas pendidikan setempat tentang kasus di sekolah. Tidak lama mendapat jawaban agar pembagian raport dilakukan secara online, validasi kurikulum ditunda, dan seluruh guru serta karyawan agar melakukan tes untuk memastikan apakah positif atau negatif covid. Mau tidak mau semua harus tes. Kebetulan ada informasi rapid tes antigen yang biayanya ramah kantong, hanya sembilan puluh rupiah saja dan biaya akan ditanggung sekolah. Semoga aman, semua negatif covid-19. Aamiin.
Maguwoharjo, 22 Juni 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
