Mudik Masa Pandemi - Bagian 6 (Tamugusi ke - 9)
Bagian 6. Hari Kedua di Waiwerang
Suami pulang dari subuhan di mushola lalu melihat saya masih tidur mengenakan mukena kemudian membangunkan saya. Suami mengajak jalan-jalan melihat suasana pagi di dermaga kapal Waiwerang. Letaknya tidak jauh dari Wisma Taufik tempat kami menginap. Jalan kaki tidak sampai lima menit sudah sampai.
Saya sangat menikmati suasan pagi di dermaga. Melihat beberapa perahu motor dari desa Lamakera pulau Solor membawa ibu-ibu membawa ikan hasil tangkapan suami mereka untuk dijual di pasar Waiwerang. Melihat ikan-ikan segar yang dibawa ibu-ibu rasanya ingin membelinya untuk dimasak, pasti enak banget.
Setelah perahu motor merapat ke dermaga, ibu-ibu penjual ikan itu langsung mengeluarkan ikan-ikan dari perahu. Mereka membawa ikan pakai bak plastik yang diangkat di kepala mereka. Mereka kemudian menaruh bak-bak yang isi ikan ke atas mobil open bak dan mereka pun juga naik mobil tersebut ramai-ramai. Mereka diantar ke pasar Waiwerang yang jaraknya tidak terlalu jauh dari dermaga untuk berjualan di sana. Salut dengan mereka, emak-emak tangguh, pahlawan ekonomi keluarga.
Saya sempat menyentuh ikan yang ukurannya sangat besar. Saya tidak tahu nama-nama ikan yang dibawa ibu-ibu itu. Tapi setahu saya ikan yang sangat besar itu namanya Tuna. Ada juga ikan cucut yang besar dan panjang. Kalau yang kecil-kecil di dalam bak plastik ada ikan tongkol juga ikan layang.
Kemudian ada kapal motor jurusan Waiwerang Larantuka. Kapal itu muat hingga dua ratus orang. Kapal itu akan bertolak ke Larantuka jam delapan saat para penumpang dan bawaanya telah termuat. Saat itu kapal masih kosong maka saya sempatkan naik untuk berpose. Setelah puas baru saya turun, karena para penumpang sudah mulai berdatangan.
Puas bermain di dermaga, kami hendak pulang ke wisma. Namun melihat banyak pohon bidara yang sedang berbuah kami mendekat. Namun sayang buahnya masih hijau, belum ada yang matang. Kalau matang warnanya merah dan rasany manis asam, bijinya bulat dan keras. Biasanya dibuat manisan buah bidara, rasanya enak banget.
Sebelum sampai ke wisma, saya sempat mampir ke warung padagang yang ada di sekitar dermaga. Seorang ibu tua yang sudah sangat lama berjualan di situ. Jualannya berupa air mineral, kacang rebus, pisang rebus dan beberapa jajanan lainnya. Masih sepi pembeli karena masih pagi sehingga saya sempat ngobrol dengan ibu penjual itu, namun tidak membeli jajanannya karena sedang puasa Ramadhan.
Kami pulang ke wisma karena hari mulai panas. Sesampai di kamar saya berbaring di tempat tidur sambil buka HP. Suami tertidur karena memang capek belum tidur lagi sejak sahur, saya juga ikutan tidur. Ada dua dipan kecil ukuran satu orang, sehingga kami tidur di dipan yang berbeda.
Sekitar jam sepuluh suami terbangun untuk baca-baca dan mempersiapkan diri menjadi khotib di masjid Babburahman Waiburak. Suami akan khotbah di masjid yang tidak hanyut oleh banjir bandang jelang Ramadhan padahal bangunan kiri kanannya terbawa banjir. Tema khotbah adalah tentang Surat Cinta Allah kepada manusia berupa musibah.
Konon musibah adalah Surat Cinta Allah agar manusia jangan terus berbuat lalai hingga tersesat. Oleh karena itu harus tetap berprasangka baik, bahwa itu bukanlah azab melainkan Allah hanya memberi ingat agar manusia kembali kepada Allah SWT. Tidak membiarkan diri berlumur dosa. Manusia harus banyak istighfar. Demikian inti khotbah Jum’at di masjid Baburrohman Waiburak.
Jama’ah di masjid bekas bencana itu penuh walau masa pandemi. Banyak dari mereka yang menangis terharu mendengar isi khotbah yang disampaikan suami. Selepas Jumatan, suami tidak langsung balik ke wisma melainkan melayani mereka yang masih ingin ngobrol baik pengurus masjid maupun sebagian jama’ah.

Mereka ngobrol banyak hal, termasuk tentang rencana pemerintah daerah Flores Timur merelokasi mereka ke daerah yang lebih aman. yakni daerah yang lebih atas agak jauh dari pantai. Namun sepertinya mereka enggan untuk direlokasi. Mereka ingin membangun kembali desanya setelah lumpur yang menutupi desa mereka dibersihkan. Mereka juga mencoba menganalisis penyebab banjir bandang itu. Dan kemungkinan besar ada penebangan liar di hutan di atas gunung.
Selesa ngobrol dengan mereka, suami pulang ke wisma diantar seseorang. Suami cerita tentang antusias jama’ah ngobrol dengannya. Wajah-wajah sedih masih tersisa namun ada optimisme setelah dimotifasi untuk bangkit. Mereka menjadi semangat untuk membangun kembali kehidupan yang baru yang lebih tertata.
Malam hari selepas batal puasa dan solat maghrib di mushola dekat wisma, kami istirahat sebentar. Saat jelang isa kami menuju masjid Annur depan wisma agak naik karena memang datarannya lebih tanggi. Kami salat jama’ah di sana. Bapak imam meminta besok subuh ustad malik untuk memberikan ceramah yang lebih panjang. Pulang dari masjid telah tersedia di wisma makan malam dengan lauk yang menggugah selera. Kami nimmatio dengan penuh rasa syukur.
Maguwoharjo, 4/06/2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
