Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Mencuci Jam Dua Dini Hari
Belik. Wikipedia

Mencuci Jam Dua Dini Hari

Mencuci Jam Dua Dini Hari

Oleh: Siti Nurhayati

Karena terlalu banyak kesibukan bu Surti yang tinggal seorang diri setelah kedua putranya menikah dan suaminya juga telah meninggal belum sempat mencuci pakaian. Banyak cucian yang harus dicucinya. Beliau juga tidak punya asisten rumahtangga, praktis semua kerjaan baik di luar rumah maupun di dalam dikerjakannya seorang diri.

Beliau yang belum lama pensiun sebagai kepala sekolah dasar di sebuah desa yang tidak jauh dari rumahnya berpikir untuk mencuci pakaian, sprei, serta mukena di belik (mata air) yang berada di ujung desa nanti malam, biar tidak panas dan tidak orang lain juga yang bareng mencuci.

Sepulang dari sebuah kegiatan sosial, bu Surti tidak lantas istirahat namun langsung beres-beres dan bersih-bersih rumahnya yang berukuran sedang, tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil. Saat masih ada kedua putra dan suaminya, rumah itu tidak sepi. Namun karena sekarang beliau hanya seorang diri, maka rumah itu menjadi sepi dan membuatnya capek karena harus mengerjakan semuanya sendiri. Walau capek beliau tidak pernah mengeluh.

Bu Surti orangnya sangat rapi dan tertib. Semua benda yang dimilikinya tercatat dengan baik. Sehingga jika ada benda yang pindah dari tempatnya, dengan mudah mengeceknya benda apa yang tidak ada. Setiap ruang ada catatan benda yang ada di dalamnya kemudian catatan itu dilaminasi kemudian ditempel di dinding ruang dimaksud.

Bu Surti pernah terpilih sebagai kepala sekolah teladan tingkat kabupaten lantaran sangat disiplin dan tertib administrasi. Seluruh guru dan juga staf sangat segan dan hormat kepada beliau. Dibawah kepemimpinannya sekolah dasar yang dikepalainya menjadi sangat maju. Walau letaknya di desa namun muridnya banyak dan tamatannya banyak yang diterima di sekolah favorit di kota.

Bu Surti juga disenangi para tetangganya karena orangnya sangat baik tidak pelit. Orangnya suka berbagi dengan siapa saja. Bagi beliau harta benda yang beliau miliki hanyalah titipan, jika yang maha memberi akan mengambilnya, manusia tidak bisa mencegahnya. Harta yang sejati adalah yang disedekahkan. Begitu pikir beliau. Tak heran untuk menjemput husnul khotimah, beliau telah mencatat semua benda yang di rumahnya untuk jika meninggal diwakafkan kemana pada siapa.

Bu Surti rajin beribadah dan juga pemberani, yang ditakuti hanyalah Allah swt. Bahkan orang-orang mengistilahkan beliau itu “Demit ora ndulit, setan ora doyan” yang artinya tidak takut hantu sama sekali. Tinggal seorang diri di rumahnya pun tidak takut. Bahkan pergi sendirian malam hari juga berani. Beliau berprinsip bahwa selagi jalannya lurus dengan niat ibadah karena Allah maka tidak perlu ada yang ditakuti.

Konon saat masih kuliah pernah pulang kemalaman naik sepeda motor kemudian diikuti oleh seorang laki-laki yang berniat tidak baik kepada beliau. Dengan tenang beliau malah menuju ke tempat yang sepi. Berlagak seolah mau menerima rayuan gombal laki-laki dimaksud. Beliau menghentikan sepeda motornya. Laki-laki itu juga berhenti dan akan memaksakan hasratnya. Kemudian bu Surti bilang “Sabar saya harus melepaskan ikat pinggang saya dulu.” Kebetulan bu Surti muda saat itu memang mengenakan celana panjang dengan dipasang ikat pinggang yang lumayan besar. Setelah melepaskan ikat pinggangnya, bu Surti lantas menghajar laki-laki kurang ajar itu dengan ikat pingganya hingga dia berlari ketakutan. Setelah itu bu Surti melanjutkan perjalanan dan pulang dengan selamat.

Selepas sholat isa dan makan malam bu Surti menonton TV. Tak lama beliau merasa ngantuk maka beliau putuskan untuk tidur di kamar tidurnya. Sekitar jam dua dini hari dia terbangun. Karena telah menabung banyak cucian maka beliau akan mencucinya walau hari masih sangat gelap dan senyap. Beliau sebenarnya punya mesin cuci, tapi saat itu beliau ingin mencuci di belik.

Sebenarnya belik atau mata air itu konon angker, sehingga jika sendirian orang enggan mencuci di belik itu, apalagi malam hari tidak bakalan ada yang berani kecuali bu Surti. Setelah memasukkan semua cucian ke dalam ember plus satu sachet sedang ditergen juga sikat cuci, bu Surti membuka pintu lalu menguncinya dari luar. Setelah pintu terkunci, beliau langsung melangkah ke arah belik di ujung desa dengan menenteng ember berisi cucian. Jaraknya kurang lebih satu kilo meter dari rumahnya. Beliau berjalan tanpa ada rasa takut sedikitpun. Kebetulan juga bulan masih menampakkan keayuannya sehingga suasana malam itu terasa syahdu di bawah terang bulan purnama namun senyap karena orang-orang masih terlelap terbuai mimpinya masing-masing.

Setelah berjalan dengan tenangnya diiringi suara binatang malam, ada suara jangkrik dan juga berisik dedaunan diterpa semilir angin malam, kadang juga ada suara kelelawar terbang mencari makan buah-buahan di kebun orang, akhirnya bu Surti sampai di belik itu. Ada bayangan bulan di permukaan air yang tergenang di belik itu. Kalau orang lain yang penakut pasti tidak berani ke belik sendirian jam dua dinia hari. Tapi ini bu Surti yang memang seperti tidak ada rasa takut sedikitpun. Beliau bahkan tidak percaya dengan cerita misteri apapun.

Dikeluarkan cucian yang ada di dalam ember. Kemudian ember itu untuk mengambil air dari belik yang bentuknya seperti kolam kecil hanya seluas kurang lebih satu setengah meter dan airnya begitu jernih dan dingin menggenang. Air itu menimbulkan bunyi saat ember menyentuh permukaan air dan kemudian menenggelamkan hingga air memunihi ember. Kemudian dituangkan detergen ke dalam ember yang telah terisi air. Satu per satu pakaian. sprei dan juga mukena dicelupkan ke dalam ember yang berisi air dan ditergen. Dibiarkan hingga beberapa saat kemudian satu per satu disikat di atas batu ceper yang berada di dekat belik.

Rupanya ada orang yang rumahnya tidak jauh dari belik itu mendengar ada orang yang mencuci malam-malam. Orang itu adalah bu Sumini. Dia mendengarkan suara orang mencuci dengan seksama. Bulu kuduknya berdiri. Dia berpikir bahwa “Wewe Gombel” telah melahirkan bayinya lalu mencuci perkakasnya malam-malam.

Bu Surti dengan asyiknya menyelesaikan pekerjaanya mencuci hingga selesai. Setelah dirasa cukup beliau pulang. Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Bu Surti menjemur semua cuciannya. Setelah itu beliau wudu dan sholat tahajud. Beliau melakukan ibadah malam sampai subuh. Setelah sholat subuh beliau tidur sejenak.

Bu Sumini yang telah mendengar ada orang mencuci malam hari dan berpikir bahwa itu adalah “Wewe Gombel” yang telah melahirkan, kemudian menceritakan pada orang-orang tentang “Wewe Gombel” mencuci di belik di ujung desa. Cerita itu santer tersebar di seantero desa hingga sampai juga ke telinga bu Surti.

Bu Surti jadi tertawa mendengar cerita yang sangat aneh dan lucu itu. Akhirnya bu Surti menemui bu Sumini untuk mengklarifikasi bahwa tidak ada “Wewe Gombel” yang melahirkan dan mencuci tadi malam di belik. Orang yang mencuci malam itu adalah dirinya. Beliau bilang bahwa karena belum sempat mencuci pakaian dan malam itu tidak bisa tidur maka beliau pergi ke belik lalu mencuci di sana. Setelah mengetahui bahwa itu bukan "Wewe Gombel" melainkan bu Surti lalu bu Sumini pun tertawa sambil bilang bahwa bu Surti memang aneh. Masa mencuci pakaian di belik jam dua dini hari. Siapa yang mengira bahwa ada orang mencuci jam dua malam. Orang pasti berpikir bahwa yang bisa melakukan itu adalah hantu. Akhirnya mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

Maguwoharjo, 7 Juli 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post