Reuni Tipis
Reuni Tipis
Oleh: Siti Nurhayati
Kuliah boleh berakhir, namun tentu banyak kenangan dengan sahabat satu angkatan yang tidak bisa begitu saja dilupakan. Saat mengenang mereka muncul rasa rindu. Karena itu muncul ide untuk temu rindu atau reuni dengan sahabat lama.
Pada masa pandemi rasanya sulit mewujudkan reuni dalam jumlah banyak, maka reuni tipis pun tidak masalah. Sekedar berbagi cerita lama dan senda gurau sudah cukup mengobati rasa rindu yang terpendam sekian lama. Tentu saja tidak melupakan pesan ibu yaitu mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak aman untuk tidak menyebarkan virus covid-19.
Pada tulisan ini saya ingin cerita tentang reuni tipis antara suami dengan tiga sahabat lamanya yaitu sahabat satu angkatan kuliah di kampus putih IAIN Yogyakarta tahun 1981. Ini artinya mereka bukan muda lagi melainkan sudah menjadi kakek dan nenek. Seru lah pokoknya.
Sore hari saya bersama anak, menantu dan cucu belanja kain di tempat yang lumayan jauh. Mereka ikut karena lama sekali tidak keluar rumah sehingga saat mendengar saya mau pergi cucu merengek untuk ikut naik mobil. Tentu saja saya tidak bisa menolak keinginan mereka untuk ikut.
Hari itu saya pas puasa Kamis. Pulang dari belanja kain sudah menjelang maghrib, maka saya putuskan untuk mampir ke sebuah rumah makan khas Janda alias Jakarta Sunda. Begitu sampai saya memilih tempat di lantai atas yang pemandangannya bagus menghadap ke arah Gunung Merapi dan tempatnya juga lesehan sehingga nyaman untuk duduk santai.
Saat saya bersama anak, menantu dan dua cucu akan menikmati hidangan yang sudah dipesan, tetiba suami kirim pesan WA. Pesannya adalah meminta saya segera pulang karena akan memenuhi undangan sahabat lama yang menjadi anggota DPR di sebuah kabupaten di Jawa Timur yang sedang berkunjung ke Yogyakarta. Saya yang awalnya mau sholat maghrib di resto tersebut menjadi urung. Setelah menghabiskan semua hidangan berupa sop Iga sapi, sate Maranggi dan lain-lain, saya segera ke kasir membayar tagihan dan langsung pulang.
Sesampai di rumah suami bilang agar segera sholat maghrib dan ikut bersamanya menemui teman di sebuah hotel. Saya segera sholat, ganti pakaian dan langsung berangkat. Sebenarnya saya lelah karena pagi ke sekolah, sore pergi belanja kain dan pinginnya istirahat. Namun karena suami minta ditemani maka saya pun ikut pergi. Dalam hati saya bilang bahwa saya nanti hanya menjadi pendengar setia cerita mereka.
Sesampai di hotel, teman yang dari Jawa Timur telah menunggu di lobby bersama tiga orang lainnya. Seorang temannya membawa istri, seorang lagi hanya sendiri tanpa istri. Teman yang dari Jawa Timur adalah perempuan. Jadi kami berenam tiga laki-laki, tiga perempuan.
Teman yang mengundang dari Jawa timur itu minta pada suami untuk mencari tempat makan yang nyaman buat ngobrol. Karena suami agak bingung tempat mana yang dimaksud, maka saya usulkan agar ke tempat makan lesehan yang tidak terlalu jauh dari hotel.
Semua masuk mobil dengan formasi saya di depan bersama suami, ibu DPR di tengah bersama istri teman suami, kursi belakang dua teman suami yang laki-laki. Saya langsung arahkan suami menuju ke Waoreng Sambal Lamongan. Dari hotel tempat ibu DPR menginap tidak sampai sepuluh menit sudah sampai, ke resto dimaksud.
Kami semua turun dari mobil dan langsung memesan hidangan. Ada yang memesan bebek goreng, ayam goreng dan ikan goreng. Tidak lupa pesan mendoan tempe dan bakwan jagung juga. Untuk minumannya ada yang memesan jeruk panas, teh panas juga air putih hangat. Setelah memesan hidangan kami memilih tempat makan yang lesehan. Kami sengaja tidak memilih kursi agar kami bisa duduk bersandar sambil sila atau selonjor.
Kami naik di tempat lesehan yang tempatnya agak naik dan berkeramik putih bersih. Kemudian saya atur dua meja disatukan agak digeser ke tengah sedikit supaya ada ruang untuk bersandar ke dinding. Saya dan istri teman suami sengaja duduk mepet dinding, sebelahnya adalah suaminya yang berhadapan dengan ibu DPR yang duduk di sebalah kiri saya, sedangkan di seberang meja berhadapan dengan saya adalah suami saya dan temannya.
Sementara menunggu hidangan yang dipesan datang, mereka tidak henti-hentinya ngobrol sambil tertawa karena mengingat peristiwa lucu yang dulu terjadi. Saya ngobrol dengan istri teman suami dengan topik yang berbeda karena tidak nyambung dengan obrolan mereka. Tetapi terkadang ikut tertawa saat cerita mereka memang seru dan lucu.
Hidangan pun tiba. Yaitu minuman dan bakwan jagung serta mendoan tempe yang masih panas. Kami langsung mengambil minuman sesuai yang dipesan. Tidak lupa ambil tisu untuk mengambil bakwan atau mendoan yang masih panas. Rasanya nikmat saat dicocol dengan sambel khas lamongan. Padahal saya masih kenyang karena saat berbuka puasa di Sop Janda itu menyantap hidangan yang sedap dan mengenyangkan, tapi karena bakwannya begitu menggoda maka tangan ini pun dengan cekatan mencocol bakwan ke sambel dan memasukkan ke dalam mulut. Panas, pedas, mantap di lidah.
Tak lama lauk pauk yang dipesanpun tiba. Obrolan pun terus berlanjut. Tidak lupa swa foto dan langsung dikirim ke grup WA angkatan mereka. Tentu saja komen di grup saling bersahutan. Ada yang komen, “Reuni kok tidak bilang-bilang. Saya kan juga pingin gabung.” Lalu dijawab bahwa ini bukan sengaja karena kebetulan ada kunjungan ke Yogyakarta sehingga mencoba kontak dengan teman-teman yang di Yogya. Begitu kata ibu DPR.
Lama ditunggu kok nasi dan lalapan belum juga dihidangkan. Setelah tanya pelayan ternyata nasi dan lalapan ambil sendiri di meja tengah yang telah disiapkan kepada para pelanggan agar mengambil sesuai kebutuhan. Setelah tahu itu kami tertawa karena merasa lucu. Mereka lalu berdiri dan berjalan menuju meja yang ada nasi dan lalapannya. Karena saya sudah kenyang maka saya tidak ambil nasi, namun malah diambilkan lalapan oleh suami.
Saat makan, ibu DPR ini menghubungi teman-temannya dan video call. Sehingga suasana tambah ramai. Walau tidak ketemu langsung namun dengan video call seakan reuninya jadi banyak orang. Setelah selesai video call masih sambil menikmati hidangan mereka lanjut cerita. Ada saja ceritanya. Seolah mengabsen teman-temannya dulu bagaimana sekarang bagaimana. Banyak dari sahabat satu angkatan mereka yang sudah mendahului menghadap yang Maha Kuasa.
Sebenarnya saya sudah sangat mengantuk namun saya menahan diri tidak mengganggu mereka dengan merengek ke suami minta pulang. Sangat tidak etis jika hal itu saya lakukan. Bisa menurunkan citra suami. Saya dengan setia menyimak obrolan mereka. Hingga sekitar jam sembilan tiga puluh malam obrolan mereka akhiri. Saat suami hendak ke kasir dicegah oleh ibu DPR karena beliau yang akan menyelesaikannya.
Kami keluar dari resto langsung masuk ke mobil dan melaju kembali ke hotel tempat ibu DPR menginap. Setelah mengdrop teman-teman kami berpamitan. Ibu DPR bilang bahwa masih akan ada dua kali lagi kunjungan ke Yogyakarta. Berharap masih bisa bertemu teman-teman lagi. Kami semua menjawab Insha Allah dengan senang hati. Ibu DPR masuk ke dalam hotel, teman yang lain ambil sepeda motor mereka di basement, suami dan saya langsung pulang.
Saya merasa bahagia bisa menemani suami reuni tipis bersama sahabat satu angakatan fakultas dakwah kampus putih IAIN Yogyakarta. Mereka cukup puas walau pertemuan terjadi hanya sekitar tiga jam. Lumayan bisa mengobati rasa rindu mereka. Alhamdulillah
Maguwoharjo, 27 Agustus 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
