Lama Tak Jumpa
Lama Tak Jumpa
Oleh: Siti Nurhayati
Entah kapan terakhir ketemu, bisa jadi lebih dari sepuluh tahun. Seingat saya ketemu terakhir saat sama-sama pulang ke NTT naik kapal Sirimau untuk acara temu keluarga besar dari rantau di kampung halaman. Namun, sekitar sepekan yang lalu, tetiba ada mobil Innova warna hitam dengan plat B melaju dan parkir persis di halaman rumah. Mendengar ada suara kendaraan di halaman, tentu saja saya kepo siapa gerangan tamu yang datang. Terlebih lagi selama masa pandemi jarang banget ada tamu karena himbauan untuk tidak bepergian. Saya pun membuka pintu rumah.
Sesaat saya perhatikan sambil menunggu siapa gerangan yang keluar dari mobil, tak lama pintu dibuka dan keluarlah mereka dari dalam. Ternyata adalah famili suami yang tinggal di Jakarta. Pakaian mereka sedikit basah. Ternyata mereka baru saja wisata lahar dingin di Kaliadem Cangkringan di bawah lereng gunung Merapi kemudian menyempatkan untuk silaturahmi.
Mereka adalah suami istri bersama dua anaknya dan satu keponakan yang memang tinggal di Yogyakarta sejak kuliah dan sudah kerja. Sedangkan pak sopir lebih memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Suaminya itu yang famili suami. Saat ketemu dulu mereka masih pasangan muda anaknya masih kecil, namun kini dua anak mereka sudah SMA dan SMP.
Melihat saya berdiri di pintu, mereka langsung mendekat dan menyalami saya satu per satu. Setelah salaman mereka saya persilahkan duduk di ruang tamu.
Saya tanya: “Angin apa yang membawa kalian ke rumah? Tumben banget nih?”
Sang suami menjawab bahwa sudah lama ingin silaturahmi namun baru ada kesempatan.
Saya perhatikan ada yang berubah pada fisiknya. Ternyata pernah mengalami stroke di usia yang masih sangat muda, sehingga saat jalannya agak terganggu. Sebenarnya dulu mungkin sudah saat ketemu, namun saya tidak begitu memperhatikan.
Setelah mereka duduk saya panggil suami dan ceritalah mereka banyak hal. Pokoknya ditanyakan kabar saudaranya semua. Ceritanya terus bersambung dari masa yang sudah sangat lama hingga yang terbaru. Yang terbaru adalah bahwa kakak yang tertua meninggal kena covid di Jakarta bulan Juli lalu.
Sementara mereka bercerita sambil bersenda gurau, saya masuk untuk menyiapkan teh hangat. Kebetulan saya punya papaya matang petik di kebun, maka saya kupas untuk dihidangkan ke mereka. Rupanya pepaya yang memang manis berwarna jingga sungguh menggugah selera. Saya jadi seneng, papaya kebun bisa dinikmati oleh famili jauh.
Tak lama sang istri pingin ke belakang, setelah itu kami berdua ngobrol di dalam, sedang yang lain di ruang tamu luar atau teras. Asyik banget ngobrolnya karena kami satu tipe sama-sama suka bicara. Dari obrolan kami berdua, sungguh banyak catatan baik yang saya terima dari istri famili suami ini. Saya sangat senang dengan kehadirannya. Menambah semangat hidup saya dan lebih bersyukur atas segala yang Allah kasih ke saya. Walau usianya baru kepala empat namun lika-liku kehidupan rumahtangganya membuat saya angkat topi.
Bayangkan, menikah di usia muda adalah sebuah keputusan yang sangat berani. Kita semua tahu bahwa menikah itu adalah sebuah ikatan suci yang harus dijaga hingga ajal menjemput. Namun kita semua juga tahu bahwa memelihara ikatan cinta juga tidak mudah. Jika ikatan terlelu kencang akan membuat sesak nafas dan bisa fatal, namun sebaliknya jika ikatan itu dilonggarkan maka bisa terlepas.
Ujian pertama selain ekonomi yang belum mapan adalah kematian anak pertamanya yang hanya berumur empat puluh dua jam. Penyebabnya adalah karena ada pecah pembuluh darah di otak atau bisa dibilang stroke bayi. Tentu saja duka mendalam dialaminya. Namun perlahan bisa mengobati dan mengikhlaskan dan kembali bekerja.
Ujian berikutnya bahkan lebih berat lagi. Setelah enam bulan dari kehilangan bayi pertamanya, suami tercinta tetiba mengalami sakit kepala yang luar biasa yang menjadikannya pingsan dan koma selama dua bulan. Setelah siuman dari koma sumai dipindah dari ruang ICU ke ruang perawatan. Bisa dibayangkan betapa berat ujian yang harus dihadapi.
Biaya yang sudah tak mampu lagi ditanggungnya, kemudian setelah dua bulan di ruang perawatan tanpa kemajuan yang berarti, hanya tergolek seperti bayi, ia putuskan untuk merawat sendiri di rumah. Dengan telaten berbekal pengetahuan dari hasil bacaan yang luas dan dalam tentang bagaimana merawat orang stroke, dan tentu saja doa yang tak putus dipanjatkan dengan tulus untuk kesembuhan suaminya, alhamdulillah dari badan yang tak bisa digerakkan sama sekali hingga akhirnya bisa jalan walau masih belum seratus persen normal, namun sudah sangat banyak kemajuannya. Yang paling berat dirasakan konon adalah membangun mental percaya diri bahwa pasti sembuh dan bisa hidup mandiri walau kondisi fisiknya belum normal sepenuhnya.
Ujian kesabaran berbuah manis karen akhirnya Allah kasih dua anak putra putri yang sehat dan cerdas. Ekonomi pun semakin mapan bahkan bisa banyak membantu orang lain yang membutuhkan.
Begitulah cerita dengan tamu famili yang sekian lama tak berjumpa. Banyak pembelajaran dari kisahnya yang membuat saya secara pribadi sadar diri bahwa tidak boleh mengeluh dalam situasi apapun. Karena Allah akan menguji setiap orang yang beriman sesuai dengan kadar keimanannya. Pasrah dan tawakal menjalani setiap ujian dengan penuh kesabaran, niscaya Allah akan angkat derajat kita pada tingkatan yang lebih tinggi.
Wallahu a’lam bishawab
Maguwoharjo, 27 September 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
