Siti Nurhayati

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Bertamasya ke Ledok Sambi
Ledok Sambi. dokpri

Bertamasya ke Ledok Sambi

Bertamasya ke Ledok Sambi

(Artikel 2)

Oleh: Siti Nurhayati, M.Pd.

Pagi hari tanggal 1 Januari 2022, aku dan keluarga beraktifitas seperti biasa dengan penuh rasa syukur telah memasuki tahun baru dalam keadaan sehat, meskipun aku masih sedikit flu. Aku belum ada rencana untuk jalan-jalan keluar sekedar menikmati hari libur tahun baru.

Saat membuka kulkas aku berpikir mau masak apa. Aku melihat ada tahu beberapa bungkus, tempe juga ada tiga lonjor, terus ada kobis, daun luncang serta selederi. Tetiba aku pingin masak tahu guling kebetulan ada kacang tanah yang sudah di goreng. Hanya tinggal menambahkan kecambah toge serta kerupuk warna warni.

Aku minta anak lanang untuk belanja toge, tomat, dan kerupuk. Ternyata di pasar agak sepi dan anakku bilang toge yang seperti biasa tak dijumpai walau sudah mendatangi beberapa penjual di pasar. Akhirnya ketemu kecambah tapi bukan toge. Kami sedikit berdebat bahwa toge dan kecambah itu sama tapi berbeda. Sama-sama berasal dari kacang hijau tapi kalau kecambah ekornya pendek sedangkan toge ekornya panjang. Akhirnya yang dibeli kecambah karena toge tak ada.

Saat anakku pulang, tahu dan tempe sudah digoreng. Kuah untuk tahu guling juga sudah aku buat. Tinggal rebus kecambah dan goreng kerupuk, lalu bikin sambel cabe rawit mentah maka tahu guling sudah bisa dinikmati.

Tetiba aku menanyakan anak di mana temannya yang bernama Toge kok lama tidak ke rumah. Nama aslinya sebenarnya bagus yaitu Indra. Entah mengapa teman-teman memanggilnya Toge. Anakku bilang kalau Toge sedang bersama bossnya nginap di Kaliurang sejak malam tahun baru.

Seketika aku juga pingin jalan-jalan menikmati hari libur. Anakku menawarkan jalan-jalan ke Ledok Sambi. Arahnya sama ke Kaliurang, hanya saja sebelum sampai ke Kaliurang ada jalan belok kanan yaitu ke arah Ledok Sambi. Karena belum pernah, aku setuju saja usulnya.

Setelah masak tahu guling dan menikmatinya, aku terus mandi. Kebetulan belum fit banget, aku mandi dengan air hangat. Rasanya segar sekali. Aku sekalian ganti baju untuk jalan-jalan. Jam sebelas aku sudah siap. Menunggu anak-anak siap, selepas sholat duha aku tiduran di depan TV. Rupanya aku memang lelah sehingga aku terlelap hingga jam tiga belas.

Melihat aku terlelap, anak-anak sempat ragu jadi jalan-jalan apa tidak. Selepas sholat zuhur aku duduk di teras. Tiba-tiba Zielrafie-cucuku bertanya mau jadi jalan-jalan apa tidak. Bersamaan ada famili yang kirim pesan WA untuk hadir ke rumahnya menikmati daging bakar sambil karaokean. Aku sempat galau pilih karaoke atau jalan-jalan. Melihat cucu sudah rapi tinggal tunggu orangtua dan adiknya siap-siap, aku menjawab pesannya bahwa akan jalan-jalan terlebih dahulu, nanti sepulang dari jalan-jalan baru singgah ke rumahnya.

Sekitar jam lima belas kami berangkat ke utara, bukan lewat jalan utama melainkan lewat jalan dalam. Kami mampir ke pombensin. Setelah isi bensin, kendaraan melaju memasuki jalan-jalan desa yang pemandangannya lumayan bagus dan asri. Rumah-rumah yang kami lewati bagus-bagus dan tertata rapi. Dari rumah kami yang masuk wilayah kecamatan Depok terus ke utara memasuki desa-desa yang masuk wilayah kecamatan Ngemplak, Ngaglik dan tak lama sudah masuk ke wilayah kecamatan Pakem. Dari Pakem naik sedikit lagi kemudian belok kanan ke arah Ledok Sambi.

Sampai di sana kami kesulitan mencari tempat parkir. Hingga putar dua kali baru pas sampai di tempat semula pas ada satu mobil keluar dari tempat parkir, maka segera tukang parkir memandu mobil kami masuk di area parkir. Ada ratusan mobil terparkir hingga ada yang parkir di halaman rumah penduduk. Kata tukang parkir pas siang tadi mereka terpaksa menolak banyak sekali mobil yang hendak tamasya ke Ledok Sambi lantaran sudah tidak muat. Kata anakku beruntung bahwa tadi aku tertidur hingga tidak berangkat pas siang. Kalau berangkat siang malah tertolak.

Setelah keluar dari mobil dan membayar parkir sebesar lima ribu rupiah, kami berjalan sekitar lima belas meter. Terlihat begitu banyak pengunjung dari berbagai penjuru kota. Jalannya menurun menuju ledok. Ledok itu lembah. Posisinya memang di lembah kaki gunung Merapi Sleman. Tidak dipungut biaya, hanya memasukkan kontribusi seikhlasnya ke kotak infak yang tersedia, namun pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan sendiri. Makanan dan minuman hanya boleh membeli di kafe yang dikelola manajemen Ledok Sambi.

Sesampai di bawah banyak sekali orang yang mengantri untuk naik Flying Fox. Jika tidak ingin capai untuk sampai di lembah atau ledok pengunjung pilih naik Flying Fox. Namun aku dan menantu pilih menuruni anak tangga yang ada pegangan besinya hingga ke bawah, sedangkan anakku dengan cucu yang besar ikut antri di Flying Fox.

Luar biasa, cucuku berani naik Flying Fox sendiri tanpa rasa takut sedikitpun. Anakku hanya merekam dengan video kemudian lari turun mengikuti anak tangga hingga sekejap sudah sampai di bawah untuk menyambut cucu yang turun dari Flying Fox. Aku sendiri sempat merekam juga dengan kamera ponsel.

Kemudian kami berjalan ke hamparan rumput yang ada di kiri kanan sungai kecil yang arusnya tidak terlalu deras dan sungainya juga penuh bebatuan yang tidak terlalu dalam. Bisa dibilang cukup ramah pengunjung sehinga mereka bisa bermain dengan leluasa dan aman. Banyak juga disewakan ban traktor dalam bagi yang ingin mengapung di sungai.

Aku dan menantu mencari tempat yang nyaman dan aman. Sedangkan anakku yang pesan makanan di kafe yang antrinya lumayan panjang. Aku berjalan terus hingga menemukan gasebo yang baru saja ditinggalkan pengunjung lainnya. Aku merasa beruntung karena jika tetiba gerimis datang aku tidak perlu berlari mencari tempat berteduh.

Karena aku belum sholat asar sedangkan di mushola juga penuh sesak maka aku langsung gelar sajadah di gasebo untuk tunaikan sholat asar dengan perangkat ibadah yang aku bawa sendiri dari rumah. Sementara aku sholat cucu yang besar sudah tak sabar kepingin nyemplung ke sungai. Dia tidak sabar menunggu ayahnya yang sementara antri pesan makanan. Dia lari ke sungai dan langung nyempulng saja. Terdengar dia teriak-teriak karena sandalnya hanyut. Menantu gelisah karena dia ingin menolong anaknya sementara anak yang kecil gak ada yang jaga.

Setelah salam, menantu titip cucu yang kecil lalu berlari menuju cucu yang besar sambil bilang agar jangan menangis, nanti sandalnya beli yang baru. Tapi tetap saja menangis karena sandalnya hanyut. Kemudian dia dituntun menuju ke gasebo. Wajahnya terlihat muram karena belum ikhlas sandalnya hanyut.

Tak lama makanan dan minuman yang dipesan diantar oleh para petugas. Aku kebetulan sedang ngezoom karena ada tecnichal meeting pembukaan kursus bahasa Arab online. Sambil ngezoom kami menikmati makanan dan minuman dari kafe. Setelah itu baru aku menikmati arus sungai yang ramah bersama cucu yang kecil. Cucu yang gede juga akhirnya menyusul lagi ke sungai. Kami bercanda dengan alam yang ramah sambil ambil beberapa gambar untuk diabadikan.

Sambil bermain air aku bertanya pada pengunjung yang lain adakah yang menemukan sandal cucuku yang hanyut. Ada seorang bapak yang sedang bermain air bersama keluarganya menemukan cuma satu dan diserahkan pada anakku. Tak lupa mengucapkan terimakasih, kemudian anakku mencari yang lainnya dan ternyata ketemu. Cucuku kembali wajahnya gembira karena sandalnya sudah diketemukan.

Sekitar jam lima sore kami pulang. Di pintu keluar ada penjual makanan khas Kaliurang yakni jadah dan tempe tahu bacem. Aku membeli satu paket seharga dua puluh lima ribu rupiah. Kami langsung menuju ke tempat kerabat yang mengundang untuk karaoke di rumahnya dengan membawa oleh-oleh jadah tempe.

Kami sampai di rumahnya pas maghrib. Kami langsung berjama’ah sholat maghrib. Selepas itu aku diberi mike untuk nyanyi. Kami bergembira bernyanyi dan berjoged bersama-sama menikmati suasana. Jam delapan malam, aku minta pamit. Saat keluar rumah hujan masih lebat, kami lari masuk mobil. Sampai di rumah aku langsung sholat isa kemudian istirahat. Alhamdulillahiroobil ‘alamien.

Maguwoharjo, 2 Januari 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post