Mendaftar Haji
Mendaftar Haji
(Artikel 29)
Oleh:
Siti Nurhayati
Sore itu bu Rani menikmati teh bersama suami satu-satunya di teras rumahnya yang tidak terlalu besar tapi bersih dan asri. Halaman rumahnya tertata rapi, penuh dengan tanaman hias beraneka rupa. Setelah menyeruput teh hangat ditemani sepiring singkong goreng bu Rani bilang sama suaminya bahwa tabungan haji yang di bank Syariah sudah cukup untuk mendaftar haji yang akan berangkat tahun 2017.
Suaminya bilang, “Kalau begitu besok pagi kita mendaftar bu, supaya kita bisa berangkat tahun itu.”
“Iya pak, besok kita berangkat pagi jam tujuh supaya bisa selesai cepat,” jawab bu Rani penuh semangat.
“Jangan lupa nanti disiapkan dulu persyaratannya loh bu, supaya besok pagi tidak ada hambatan karena kurang persyaratan,” kata suami mengingatkan.
“Syaratnya apa saja ya pak?” tanya bu Rani sambil meletakkan cangkir ke atas meja.
“Yang jelas ya harus beragama Islam to bu. Kalau beragama selain Islam ya tidak boleh pergi haji,” jawab suaminya sambil tersenyum.
“Ya kalau itu ya sangat jelas to pak, masa non muslim kok pergi haji ya tidak syah,” timpal istrinya dengan mimik wajah yang lucu.
“Syarat lainnya ya harus ada KTP, KK, dan masih ada lagi tapi saya tidak hapal bu,” jawab suaminya lagi.
Kemudian bu Rani masuk ke dalam kamar bermaksud mengambil KTP di dompetnya. Dompetnya dibawa keluar dan kembali duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi suami hanya terpisah oleh meja kecil tempat menaruh teh dan sepiring singkong goreng.
Setelah membuka dompet dia cemas karena KTP yang dicarinya tidak ada. “Loh pak...kok KTP ibu tidak ada ya. Dimana ya pak?” tanyanya pada suami.
“Loh...kok malah tanya saya. Ya saya tidak tahu, wong yang menyimpan yo ibu sendiri kok,” jawab suami yang sebenarnya juga cemas, khawatir kalau KTP istrinya tidak ketemu.
Bu Rani mencoba mengeluarkan isi dompetnya hingga tak bersisa, namun tetap saja belum ketemu.
“Waduuuh...bagaimana ini pak...kok ya belum ketemu,” ucap bu Rani terlihat semakin panik.
“Coba bu tenang dulu to ...sekarang diingat-ingat kapan ibu merasa terakhir mengeluarkan untuk keperluan apa,” kata suaminya sambil berusaha menenangkannya.
“Saya tidak ingat kapan terakhir saya gunakan KTP. Sudah lama tidak menggunakannya jadi lupa,” jawabnya sambil memasukkan seluruh isi dopmet yang tadi dikeluarkan semua.
“Nanti coba dicari lagi di dalam rumah. Ibu buka itu tumpukan buku, stofmap dan kertas lain di bupet. Barangkali ibu taruh di sana,” suaminya menyarankan.
“Sudah saya bongkar tumpukan kertas dan yang lainnya kok belum ketemu jua ya pak,” ucap bu Rani sambil membetulkan jilbabnya.
Suaminya terlihat sangat empati dengan istrinya yang terlihat sedih dan bingung.
“Sudah bu gak usah cemas. Besok ibu bikin KTP baru. Agak ribet memang namun mau bagaimana lagi karena tanpa KTP ya tidak bisa mendaftar haji,” kata suaminya sambil menanangkan istrinya.
***
Setelah mengurus KTP yang prosesnya memakan waktu sepekan, mulai dari urus surat kehilangan KTP ke kepolisian setempat, buat iklan di koran, dan sebagainya, akhirnya bu Rani bersama suaminya menuju kantor kemenag setempat. Namun sampai di alamat pendaftaran haji yang akan berangkat 2017 sudah penuh sehingga ditutup dan membuka lagi untuk pendaftaran tahun berikutnya.
“Ya Allah paaak...ini pasti Allah punya rencana yang terbaik untuk kita. Saya sabar menerimanya semoga Allah tersenyum lalu memberikan hadiah umroh sebelum haji,” kata bu Rani sambil berjalan pulang setelah memproses pendaftaran haji.
“Aamiin ya Allah," kata suaminya sambil mengangkat kedua tangannya lalu mengusapkan ke wajahnya.
Mereka berdua pulang dengan mobil tua satu-satunya namun terawat dengan baik, sehingga masih terus bisa dipakai dengan aman dan nyaman hingga sekarang.
***
Sore hari saat bu Rani sedang menyirami tanaman hias yang terjejer rapi di halaman rumahnya, tiba-tiba terdengar suara bu Leni mengucapkan salam. Beliau adalah ketua organisasi perempuan Islam berkemajuan, sedangkan bu Rani adalah bendaharanya.
“Bu Rani.....saya mohon maaf ya karena KTP njenengan terbawa di tas saya saat kita berdua membuat rekening untuk organisasi kita, saya juga baru tahu tadi saat mengambil buku rekening kok ada KTP bu Rani,” ucapanya dengan ekspresi tubuh sangat merasa bersalah.
"Ya Allah bu...saya mencari dimana-mana tidak ketemu, rupanya terbawa ibu to. Ya sudah bu tidak apa-apa saya sudah membuat KTP baru kemarin untuk mendaftar haji. Jadi saya malah punya dua KTP sekarang," kata bu Rani sambil menerima KTP lamanya.
"Syukurlah bu, bu Reni sudah bisa mendaftar haji...Insha Allah saya juga berangkat haji tahun 2018 bersama suami," ucap bu Leni sambil tersenyum dan menyalami bu Rani."Kalau begitu kita nanti berangkat bersama dong, karena saya mendaftar yang untuk tahun 2017 sudah tutup," kata bu Rani dengan gembira.
"Mungkin kita memang ditakdirkan untuk pergi haji bersama ya bu," ucap bu Leni sambil memeluk bu Rani tanda suka cita yang tak terhingga.
Maguwoharjo, 29 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
