Pidato Mewakili Siswa Kelas Enam
Pidato Mewakili Siswa Kelas Enam
(Artikel 25)
Oleh: Siti Nurhayati
“Bambang ... nilai raportmu tidak ada angka merah. Dan kamu jadi juara kelas. Kamu rangking satu. Bapak ucapkan selamat ya.” demikian pak guru kelas menyampaikan pada saya dengan bangga sambil menepuk-nepuk bahu dan menyerahkan raport plus uang jajan sebagai hadiah.
Bambang kecil menerima raport dengan perasaan sangat bahagia dan bangga lalu mengucapkan terimakasih sambil menyalami dan mencium punggung tangan pak guru.
Pak guru lantas bilang; “Bambang kamu nanti pidato mewakili kelas enam saat perpisahan ya karena kamu bintang kelas.”
Seketika saya terkejut saat pak guru meminta hal itu. Namun saya tidak berani menolak. Saya menjawab, “Insha Allah pak.”
Teman-teman satu kelas mendekat sambil memeluk saya dan mengucapkan selamat atas prestasi dan juga pidato mewakili kelas enam. Menyaksikan itu semua saya malah tidak senang. Saya takut nanti saya tidak bisa bicara di depan pak guru dan teman-teman semua dengan lancar. Jujur saya sangat cemas karena ini akan menjadi pengalaman pertama yang menegangkan.
Menunggu hari H tiba saya semakin cemas. Saya ingin menyetop waktu agar tidak terus melaju. Apa daya sang waktu tidak peduli kecemasanku dan terus saja melaju hingga hari yang teman-teman tunggu tiba tapi justeru sebaliknya dengan saya.
Saya tidak berhenti memikirkan apa yang harus saya sampaikan di podium sejak pak guru memberi amanat yang maha berat itu. Saya menyobek hampir satu buku tulis bergaris karena saya tidak puas dengan kata-kata yang tertulis di kertas-kertas tadi. Apa daya saya harus juga berangkat ke sekolah. Saya melihat aula sudah ditata sedemikian rupa. Pak guru dan para siswa mulai dari kelas empat hingga kelas enam sudah mengisi bangku-bangku yang disediakan untuk mereka semua. Saya semakin tidak nyaman. Perut jadi mules dan kepala pening. Saya duduk di antara teman-teman kelas enam.
Pukul delapan tiga puluh pembawa acara telah memegang mike dan membuka acara serta membacakan susunan acara. Ternyata saya akan mewakili pidato ke depan setelah sambutan kepala sekolah. Saat kepala sekolah sedang menyambut, saya pamit ke kamar mandi sebentar pada teman yang duduk di sebelahku. Padahal saya bukan ke kamar mandi melainkan melarikan diri dan sembunyi di tengah kebun jagung yang tumbuh jauh di belakang sekolah. Saya sembunyi hingga acara selesai. Saya tidak tahu dan tidak mau tahu lagi apa yang terjadi setelah selesai sambutan kepala sekolah.
Sorenya pak guru ke rumah saya.
“Bambang...ini loh pak guru datang. Ayo keluar kamar...pak guru ingin bertemu kamu,” demikian suara bapak nyaring terdengar. Saya pura-pura tidur, tapi ayah malah masuk kamar dan membangunkan saya. Terpaksa saya keluar.
Melihat pak guru saya merasa sangat malu dan berdosa karena tidak menunaikan tugas yang diamanatkan. Saya salami pak guru dan saya menangis minta maaf. Saya bilang bahwa saya sudah berusaha tapi entah saya tidak bisa menghilangkan kegugupan saya sehingga saya memilih untuk meninggalkan acara tanpa memberi tahu siapapun.
Mendengar penjelasan saya pak guru yang bijak tidak lantas marah namun malah mendoakan bahwa kelak saya menjadi public speaker yang hebat asal mau beruasaha keras. Mendengar doa pak guru seketika saya menjadi termotivasi untuk latihan bicara yang teratur dan mudah dipahami oleh yang mendengarkan.
Ayah saya tidak kalah hebat dari pak guru dalam membentuk saya menjadi seorang yang pandai bicara. Ayah membelikan sekotak wayang kemudian meminta saya untuk belajar jadi dalang. Saya benar-benar belajar setiap karakter wayang. Watak Pandawa Lima yang bijaksana yaitu Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa saya pelajari dan hayati. Juga watak para Kurawa yang antagonis yang terkenal adalah Duryudana dan Dursasana. Sejak itu saya menjadi senang bicara dan termotivasi menjadi dosen.
Setelah tamat SMK saya lanjut ke perguruan tinggi. Singkat cerita saya diangkat menjadi PNS sebagai dosen di sebuah akademi pariwisata. Istri saya seorang dokter yang juga menguasai beberapa bahasa asing. Sambilan saya adalah menjadi komite sekolah di beberapa sekolah baik negeri maupun swasta dan sering diundang di beberapa BUMN untuk membekali para karyawan, bicara tentang etos kerja dan keselamatan kerja. Itulah pak Bambang Hidayatun, orang yang saat diminta bicara di depan guru-guru dan teman-teman saat SD lari kini menjadi pembicara yang bayarannya lumayan tinggi.
Disampaikan dalam pembekalan dan pelepasan siswa SMK YPKK 3 Sleman yang akan melaksanakan PKL oleh Komite Sekolah bapak Drs. Bambang Hidayatun di aula sekolah.
Maguwoharjo, 25 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
