Undangan Mendadak
Undangan Mendadak
(Artikel 6)
Oleh: Siti Nurhayati, M.Pd.
Sabtu sore tanggal 25 Desember 2021 ada pesan masuk ke whatsaap suami dari kemenag pusat. Isi pesan adalah mengundang suami dan putri bungsu untuk hadir acara workshop tentang Moderasi Islam di Bandung tanggal 26 – 28 Desember 2021. Sebenarnya ini adalah sudah acara yang ketiga tentang Moderasi islam. Pertama di hotel Novotel Solo, yang kedua di Jakarta namun waktu itu yang diundang hanya putri saya. Dan ini adalah yang ketiga di Bandung. Suami diundang sebagai dosen pendamping sekaligus sebagai wakil dosen agama Islam di perguruan tinggi umum, sedangkan si putri diundang sebagai wakil mahasiswa Islam dari UGM.
Mendapat undangan yang tiba-tiba membuat suami galau lantaran Ahad pagi harus mengisi jadwal ceramah di sebuah masjid, sementara si putri sedang menangani acara pelatihan kepemimpinan Ikatan Pelajar Muhammadiyah di kabupaten Sleman sehingga untuk koordinasi keberangkatan ke Bandung lumayan susah. Sudah begitu dari kemenag minta agar tiket mencari sendiri dan baru akan diganti seluruh biaya satu pekan setelah selesai acara. Padahal saat itu uang baru saja dipakai belanja material dan membayar tukang, kebetulan di rumah sedang ada pekerjaan. Pendek kata tidak ada uang untuk membeli tiket. Terpaksa putar otak bagaimana caranya bisa mendapatkan tiket pesawat terbang.
Si putri pulang malam hari dari acara pelatihan meskipun acaranya belum selesai, sementara dia adalah penanggungjawab kegiatan. Dia memutuskan untuk naik kereta api pagi jam delapan. Beruntung dia masih ada uang di tabungan sehingga dia bisa beli tiket kereta pakai uang sendiri. Namun jika harus naik kereta bareng jam delapan, suami tidak bisa karena harus mengisi pengajian. Akhirnya si putri mengambil kereta yang berangkat jam sebelas siang. Pagi itu dia masih sempat balik lagi ke arena pelatihan untuk kordinasi dengan tim bahwa dia tidak bisa menutup acara pelatihan. Dari sana dia diantar temannya ke stasiun. Karena pembukaan acara di Bandung jam delapan malam maka dia masih bisa mengikuti acaranya.
Sebenarnya bisa saja suami bareng si putri naik kereta jam sebelas, namun permasalahannya adalah saat sedang mengisi pengajian, temannya menelepon minta tolong menggantikan dirinya mengisi pengajian di masjid dekat rumahnya lantaran sedang sakit. Suami tidak bisa menolak. Terpaksa tetap harus berburu tiket pesawat.
Suami mencari tiket pesawat yang berangkat jam tiga belas tiga puluh dari bandara Adisutjipto yang jaraknya tidak jauh dari rumah. Hanya ada pesawat Wings yang terbang dari bandara Adi. Pesawat yang lain terbang dari bandara Internasional Yogyakarta yang berada di Kulonprogo. Padahal untuk bisa sampai ke sana butuh waktu sekitar sembilan puluh menit. Jadi rasanya tidak mungkin terkejar kalau harus pilih pesawat terbang yang selain Wings. Karena sangat mendadak maka mencari tiket online sangat susah. Sudah terhubung Traveloka namun hanya diberi waktu dua menit untuk transfer uang tiket. Jelas hal ini sangat tidak mungkin kecuali menggunakan E-bank dengan saldo yang cukup. Tiketnya tidak terlalu mahal hanya enam ratus dua puluh ribu, namun masalahnya waktunya yang tidak memungkinkan kalau harus lari ke ATM.
Saya minta tolong putra saya untuk mengatasi. Dia lari ke ATM untuk setor tunai agar bisa transfer cepat. Namun tetap saja tidak bisa karena sistem pembayarannya terkunci meskipun sudah booking tidak bisa melakukan pembayaran. Suami makin gelisah karena masalah tiket belum klir. Karena lama suami akhirnya pergi mengisi pengajian terlebih dahulu menggantikan temannya. Berharap sepulang mengisi pengajian tiket sudah teratasi.
Anak saya mencoba mengubungi agen namun tetap saja belum bisa teratasi. Hingga suami pulang dari pengajian tiket juga belum klir. Saya tetap minta suami bersiap diri. Membawa pakaian seadanya kemudian langsung ke bandara. Mencoba keberuntungan saja kalau bisa beli tiket langsung ke agen yang ada di bandara. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh. Sementara belum ambil uang yang tadi sudah masuk ke ATM dengan setor tunai. Saya buka dompet saya masih ada sejumlah yang dibutuhkan untuk membeli tiket pesawat.
Kami berangkat ke bandara, namun ada masalah lagi karena ban mobil depan gembos. Terpaksa harus isi angin dulu yang ternyata memakan waktu sekitar lima belas menit. Makin berdegub jantung ini karena sebentar lagi pesawat take off. Setelah ban mobil sudah oke, putraku langsung balik arah menuju bandara tanpa sempat ke ATM. Alhamdulillah suami baru isi pengajian ada dua amplop masing-masing isi dua ratus lima puluh. Namun belum SWAP dan belum juga dapat tiket. Suami bertanya ada uang tidak di dompet saya. Kebetulan ada tujuh ratus ribu, langsung saya serahkan yang lima ratus. Pulangnya nanti bagaimana itu urusan nanti.
Tiba di bandara sudah pukul tiga belas sepuluh menit. Ptra saya bertanya sama orang di bandara di mana tempat swapnya. Ternyata loket tiket ada di barat dan sementara tempat swap ada di timur, sekitar satu kilo meter jaraknya. Putra saya mengantar suami ke tempat swap. Setelah suami turun dia langsung ngebut balik lagi ke loket untuk bayar tiket. Sampai di loket harus menggunakan KTP suami untuk beli tiketnya, padahal KTP tadi untuk syarat swap. Langsung dia ngebut lagi untuk ambil KTP. Beruntung swapnya sudah selesai sehingga sekalian suami dijemput dan ngebut lagi ke tempat tiket. Saya sampai pusing karena muter-muter dengan kecepatan tinggi.
Sampai di loket langsung serahkan uang. Setelah mendapatkan tiket suami langsung check in tanpa sempat duduk langsung lari menuju pesawat. Karena pesawatnya tinggal nunggu suami saja untuk terbang. Loketnya juga langsung tutup setalah pembelian terkahir oleh suami. Tak lama pesawat pun terbang menuju bandara Bandung. Kami langsung pulang, namun sebelumnya ambil uang dulu di ATM yang tadi sudah disetorkan tunai. Bagaimana lagi karena itu mengganti uang yang tadi untuk membeli tiket pesawat buat belanja tiga hari ke depan.
Sekitar satu jam suami mengabari lagi bahwa sudah tiba di Bandung. Alhamdulillah. Sementara putri saya karena naik kereta tiba belakangan. Suami sudah sampai hotel tempat acara, putri baru tiba sekitar maghrib.
Selasa 28 Desember 2021 suami mengabarkan bahwa sudah dibelikan tiket pulang ke Yogyakarta oleh panitia dan minta dijemput di bandara Adi jam sebelas tiga puluh. Sebenarnya acara penutupan jam dua belas siang, namun jam delapan suami sudah diantar ke banadra karena sore itu harus baca doa untuk ulang tahun cucu yang kelima. Sementara putri saya tidak langsung pulang melainkan lanjut perjalanan ke Jakarta setelah acara. Tanggal 30 Desember 2021 baru dia pulang ke Yogyakarta naik kereta lagi. Alhamdulillah walau tegang sebelum berangkat namun bersyukur bahwa semua bisa berjalan baik.
Maguwoharjo, 6 Januari 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
