Sitti Asmah, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
CAHAYA KASIH IBU TAKKAN HILANG DITELAN ZAMAN  Oleh Sitti Asmah, S.Pd.

CAHAYA KASIH IBU TAKKAN HILANG DITELAN ZAMAN Oleh Sitti Asmah, S.Pd.

#Tantangan Menulis Hari Ke-76

#Gurusiana_MGI

#LombaJanuari2021

CAHAYA KASIH IBU TAKKAN HILANG DITELAN ZAMAN

Oleh: Sitti Asmah, S.Pd.

Ibu merupakan sosok wanita paling berjasa bagi semua manusia di dunia. Semua orang terlahir dari rahim seorang ibu. Kurang lebih sembilan bulan ibu mengandung hingga akhirnya melahirkan. Setelah itu, seorang ibu merawat sang buah hati hingga beranjak dewasa. Tak pernah ada keluh kesal dari seorang ibu selama merawat dan membesarkan anaknya. Itulah mengapa, seorang anak wajib bersyukur karena telah mendapat kasih sayang dari seorang ibu.

Walau berpuluh-puluh tahun yang lalu ibuku telah tiada. Namun, sewaktu beliau masih hidup sangat banyak menorehkan kasih sayang dan perhatian buat kami anak-anaknya. Aku tak pernah bisa melupakan wajah cantik dan senyum manis ibuku tersayang kala kami masih bersama. Ibu yang kami sayangi sangat lihai mengurus, membesarkan, dan mendidik kami putra putrinya.

Ibuku adalah wanita yang lincah dalam segala hal, walau beliau bukanlah wanita karier. Ibuku hanyalah wanita lulusan Muallimin di masanya yang setara dengan MA dan SMA di era sekarang ini. Ibuku hanyalah wanita yang berasal dari kalangan yang biasa- biasa saja, tetapi bagi kami anak-anaknya beliau wanita yang sangat luar biasa.

Ibuku sangatlah keibuan dalam mendidik kami anak-anaknya, walau beliau termasuk wanita yang menikah muda. Beliau dinikahi oleh gurunya sendiri setelah lulus di Muallimin waktu itu yang kini jadi ayahku. Ibuku dikaruniai 4 orang anak yang kelahirannya berdempetan maksudnya usia anaknya tidak terpaut jauh, namun beliau mampu menjadi ibu dan istri yang baik dan sempurna bagi buah hati dan suaminya. Semua pekerjaan rumah dia kerjakan sendiri tanpa batuan orang lain.

Sewaktu masih kecil aku sering merasa dijadikan pembantu oleh ibuku. Kala itu aku baru berusia 8 tahun. Ibu selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku dipaksa membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencuci sendiri piring dan peralatan masak. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya. Sehingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Setelah kepergian ibu menghadap sang khalik barulah aku mengerti mengapa beliau melakukan semua itu kepadaku. Itu semua ibu lakukan, agar setelah kepergiannya setidaknya aku sudah bisa mengurus diriku sendiri dan juga bisa membantu ayah mengurus adik-adikku sepeninggalnya. Terima kasih ibu, karena engkau telah mempersiapkan aku putri sulungmu menjadi anak mandiri dan mampu menjadi penggantimu di kala engkau pergi untuk selama-lamanya.

Teringat saat pertama kali aku masuk Sekolah Dasar, dia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula beliau menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, beliau masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, terik mentari yang menyengat tubuhnya, hujan yang mengguyurnya atau juga rasa jenuh dan bosannya menungguku. yang penting aku senang beliau menungguiku sampai bel berbunyi.

Sebagai anak sulung dalam keluarga kami, akulah yang paling dekat dengan ibu. Kemana ibu melangkah di situlah aku berada. Hasil didikan ibu sangatlah berharga buat kami anak-anaknya. Walaupun ibu tidak punya kesempatan mendidik dan mengawal perjalanan hidup kami dari kecil hingga dewasa dan mencapai sukses seperti sekarang ini. Namun, didikan semasa hidupnyalah yang membekas dan terkenang hingga kami dewasa. Aura cinta ibu menghadirkan kedamaian dan ketenangan bagi kami anak-anaknya. Dari tangan ibulah, kami belajar kasih sayang sejati. Apa yang ibu torehkan di masa kecil kami dan semasa hidupnya itulah, menjadi amal jariyah bagi beliau di akhirat sana. Semoga beliau mendapat balasan surga di sisi Allah swt. “Rabbighfir li wa liwalidayya warham huma kama rabbayani shagiraa (Ya Allah, ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil”. Aamiin ya rabbal aalamiin.

Salam Literasi 💪💪💪

Sinjai_Kamis, 07 Januari 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post