MAAFKAN ANAKMU, TELAH MENZALIMIMU ABAH Oleh Sitti Asmah
#Tantangan Menulis Hari Ke-105
#Gurusiana_MGI
#Lomba bulan Pebruari 2021
MAAFKAN ANAKMU, TELAH MENZALIMIMU ABAH
Oleh: Sitti Asmah
(Guru MTs.N 1 Sinjai, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan)
Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Segala curahan perhatian dan kasih sayang yang tulus hanya untuk buah hatinya. Aku ibaratkan kasih sayang Ummy sepanjang masa dan kasih sayang Abah sepanjang zaman. Artinya seorang Abah akan terus bekerja keras mencari nafkah, membanting tulang, melakukan apa saja, demi keberlangsungan hidup keluarganya yakni istri dan anak-anaknya.
Sosok Abahku sangat sabar, tenang, penyayang, dan perhatian kepada Ummy dan kami anak-anaknya. Hal itu, aku rasakan semasa Ummy masih hidup hingga sekarang ini.
Sejak Ummy meninggalkan kami menghadap sang Ilahi Rabbi. Abah memiliki peran ganda dalam keluargaku. Selain sebagai kepala rumah tangga beliau juga betindak sebagai ibu rumah tangga. Kepergian Ummy membuat Abah merasa sedih dan kehilangan. Tidak ada lagi yang mendampingi beliau membesarkan dan mendidik kami.
Takkan hilang dari ingatanku. Masih pagi buta Abah sudah bangun dan berada di dapur. Beliau mempersiapkan makanan untuk kami santap bersama sebelum berangkat ke Sekolah. Sebenarnya Abah tidak pandai memasak. Namun, beliau berusaha menyiapkan makanan kesukaan anak-anaknya. Abah juga tak lupa membereskan rumah dan mencuci pakaian kami. Setelah melayani buah hatinya barulah beliau berangkat menjemput rezki dan menunaikan kewajiban di tempat tugasnya.
Berselang satu tahun Ummyku tiada. Keluarga besarku menyarankan Abah segera mencari penggantinya. Mereka merasa kasihan melihat Abah sendirian merawat, mengurus, mendidik, dan mencari nafkah untuk keempat buah hatinya. Aku sebagai anak tertua hanya mampu membantu Abah sekadarnya saja. Waktu itu aku masih kecil dan baru duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar.
Mendengar berita itu, kami marah dan tidak mengizinkan beliau untuk menduakan Ummy. Kami selalu bermurung durja dan bersedih setelah mendengar berita akan hadirnya ibu baru dalam keluarga kami. Kesedihan kami waktu itu tidak berlangsung lama. Abah belum bersedia menikah walaupun didesak oleh keluarga. Beliau masih setia menduda demi anak-anaknya.
Tak terasa sudah enam tahun kepergian Ummy. Kembali keluarga besarku membujuk beliau untuk menikah. Kata mereka, Abah juga butuh perhatian dan belaian dari seorang istri. Waktu itu aku sudah duduk di kelas tiga MTsN. Aku dan adik-adikku tetap tidak mengizinkan beliau menikah dengan alasan ibu tiri itu jahat. Kami sangat takut. Abah tidak lagi menyayangi kami setelah beliau menikah. Kami takut mendapatkan ibu tiri kejam seperti dalam film/ sinetron yang sering kami tonton.
Di suatu malam setelah kami selesai shalat Isya berjamaah, Abah mengutarakan niatnya untuk menikah. Saat beliau meminta izin.kepada kami, mata beliau berkaca-kaca. Beliau membelai kami satu persatu. Beliau berjanji akan terus menyayangi dan memperhatikan kebutuhan kami walaupun beliau telah menikah. Namun waktu itu, kami tetap tidak mengizinkannya. Kami malah menangis dan mengancam beliau. Kami akan membenci istrinya untuk selamanya.
Tak lama kemudian penikahan Abah digelar dengan meriah. Abah menikah dengan gadis pilihan pamannya. Setelah menikah beliau tidak tinggal lagi dengan kami. Beliau tinggal di rumah mertuanya sedangkan kami tinggal bersama nenek. Namun, kasih sayang dan perhatian Abah tetap sama sewaktu beliau belum menikah. Abah tetap bertanggung jawab kepada kami. Beliau tidak pernah menampakkan rasa marah, jengkel, ataupun kecewa. Padahal beliau tahu, kami tidak menyukai istrinya. Abah mengajarkan kami kesabaran dalam menjalani hidup. Beliau teladan, pahlawan, dan pejuang bagi kami. Tak ada yang bisa menggantikan posisi Abah di hati kami sampai kapan pun.
Setelah aku duduk di bangku SMA, aku mulai memahami mengapa Abah menikah kembali. Abah adalah lelaki normal yang punya kebutuhan biologis yang sewaktu-waktu butuh seorang istri bukan seorang anak. Akhirnya, aku dan adik-adikku mulai berdamai dengan ibu tiriku. Keluarga kami pun kembali utuh dan siap menjalini hubungan yang harmonis. Aku minta maaf Abah telah menzalimimu sewaktu kecilku. Terima kasih atas kebahagiaan yang kami rasakan hingga kini. Semua itu berasal dari cucuraan keringatmu mencari rezki siang dan malam tanpa lelah.
Salam Literasi 💪💪💪
Sinjai_Jumat, 05 Pebruari 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
