Sitti Asmah, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
KATIRI SALLANG TAK BERPERASAAN  Oleh Sitti Asmah, S.Pd.

KATIRI SALLANG TAK BERPERASAAN Oleh Sitti Asmah, S.Pd.

#Tantangan Menulis Hari Ke-188

#Gurusiana

#Media Guru Indonesia

#Pentigraf

KATIRI SALLANG TAK BERPERASAAN

Oleh: Sitti Asmah, S.Pd.

Pagi-pagi gedung walet kami mulai direnovasi. Empat orang tukang telah beraksi. Suamiku ikut serta memantau. Suamiku siap sedia menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Semoga setelah direnovasi ada peningkatan sarang. Aamiin ya rabbal alamin.

Hari ini aku ada jadwal memberikan pembelajaran daring. Bergegas aku masuk di tiga kelas lewat via WAG dan pesan suara. Setelah selesai mengajar daring aku membereskan rumah. Aku tak lupa mengurus si bungsu. Aku berusaha membujuknya untuk segera mandi. Akhir-akhir ini bungsuku malas mandi. Setelah berhasil memandikan si bungsu aku membaca Alquran. Aku berharap bisa hatam secepatnya dan mengulangnya lagi dan lagi. Aku tidak ingin bulan Ramadhan yang penuh berkah, pahala, dan ampunan ini berlalu dengan sia-sia.

Tak terasa waktu berputar begitu cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WITA. Aku mengeluarkan si beat hitam kesayanganku. Aku segera ke pasar membeli makanan berbuka. Muncul dibenak ku membelikan suamiku kue katiri sallang. Sudah lama suamiku ingin makan kue tersebut. Aku membeli kue itu ditempat yang kukenal. Pemiliknya masih keluarga dekatku. Semoga aku tidak kecewa membeli kue di tempat itu. Aku membeli kue katiri sallang empat boks seharga empat puluh ribu rupiah. Hanya kue itu yang aku beli karena susah bikinnya. Sesampai di rumah aku langsung bergegas menyiapkan makanan lainnya. Tak terasa waktu berbuka telah tiba. Suami, anak, dan tukangku buka berjamaah. Suamiku langsung mengambil dan makan kue andalannya. Wajah suamiku sedikit masam setelah menggigit kue katiri sallang itu. Gigi suamiku terasa sakit. Gigi suamiku seakan berbenturan dengan benda keras saat menggigit kue itu. Kue itu sepertinya sudah lama di kulkas sehingga mengeras. "Kenapa ya si penjualnya tidak menjelaskan kalau kuenya sudah tidak layak lagi dikomsumsi," bathinku bermonolog. Kue katiri sallang tak berperasaan itu langsung kusingkirkan dari deretan sajian lainnya. Aku tidak ingin es buah dan kue lainnya ikut-ikutan keras dan tidak berperasaan. Hehehe...

Salam Literasi 💪💪💪

Sinjai_Kamis, 29 April 2021

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post