TERNYATA PRESTO TIDAK LAH MENAKUTKAN Oleh Sitti Asmah, S.Pd.
#Tantangan Menulis Hari Ke-202
#Gurusiana
#Media Guru Indonesia
#Pentigraf
TERNYATA PRESTO TIDAK LAH MENAKUTKAN
Oleh: Sitti Asmah, S.Pd.
Hari ini hari terakhir kita berada di bulan suci Ramadhan. Artinya besok kita sudah merayakan hari kemenangan. Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan orang-orang yang kembali fitrah setelah berhasil menjalankan rukun Islam yang keempat ini.
Sejak tadi sore aku mulai disibukkan dengan rutinitas menjelang hari lebaran. Alhamdulillah aku dapat rezki dari Abah dan bapak mertua. Mereka memberikan cucunya ayam untuk dinikmati di hari raya. Ayam itu berjumlah tiga ekor. Ayamnya besar-besar. Buah hatiku menyarankan satu ekor dimasak lebih dahulu untuk dinikmati saat berbuka. Alhamdulillah kedua buah hatiku masih eksis dalam menjalankan puasanya hingga di hari terakhir Ramadhan. Sesuai request mereka aku mengeksekusi seekor ayam secepatnya. Aku bergegas menyiapkan bumbunya.
Ayam dari Abah yang pertama aku eksekusi. Ayam betina itu kayaknya enak dimasak kari. Ayam itu juga sepertinya sangat muda. Ku tumis bumbu dan kumasukkan ayam itu ke wajan. Aku memasaknya dengan penuh cinta agar hasilnya maksimal. Setelah airnya hampir habis aku cek kematangan ayamnya. Ternyata ayamnya masih keras tak bergeming. Aku tambah air santannya. Begitu seterusnya sampai mencapai dua jam. Aku gusar alias gelisah ayamnya belum masak sementara waktu buka puasa sudah menjelang tiga puluh menit lagi. Ternyata ayamnya sudah tua. Aku tertipu dengan penampilan ayam itu. Aku teringat dengan panci presto yang aku beli empat tahun yang lalu. Aku belum pernah menggunakannya. Panci presto itu masih mendekam di dalam lemari hingga kini. Aku takut menggunakannya karena mendengar banyak cerita kurang bagus tentang panci presto. Pernah di acara pernikahan, tanteku menggunakan presto dan beliau kena ledakannya. Setengah dari badan beliau luka akibat ledakan panci presto tersebut. Aku tepis cerita jelek itu dibenakku. Aku memindahkan masakan kari ayam itu ke panci presto dengan harapan lekas matang. Sebelumnya aku pelajari terlebih dahulu cara penggunaannya. Dengan basmalah aku menggunakan panci presto itu. Setelah lima menit aku matikan kompor. Aku tak lupa mengeluarkan asap dalam panci. Aku membuka penutupnya dengan hati dagdigdug. Biasalah jika pertama kali menggunakan sesuatu. Alhasil ayamnya langsung matang maksimal. Aku senang akhirnya keluargaku bisa menikmati kari ayam di terakhir buka puasanya. "Ternyata gampang ya menggunakan panci presto," bathinku bergumam. Panci prestonya ternyata tidak menakutkan seperti cerita orang-orang. Dasar udik, hehehe.
Salam Literasi 💪💪💪
Sinjai_Kamis, 13 Mei 2021
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
