Sitti Asmah, S.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
LESTARIKAN WARISAN BUDAYA BANGSA MELALUI BAHASA IBU  Oleh Sitti Asmah

LESTARIKAN WARISAN BUDAYA BANGSA MELALUI BAHASA IBU Oleh Sitti Asmah

#Tantangan Menulis Hari Ke-475

#Gurusiana_MGI

#Lomba Februari 2022

KOLOM

LESTARIKAN WARISAN BUDAYA BANGSA MELALUI BAHASA IBU

Oleh: Sitti Asmah

Bahasa Ibu adalah bahasa pertama yang dipelajari oleh seseorang. Kepandaian dalam bahasa ibu sangat penting untuk proses belajar berikutnya karena dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa ibu seringkali menjadikan proses belajar bahasa lain menjadi sulit. Bahasa ibu dianggap memiliki peran sentral dalam pendidikan.

Dikatakan bahasa ibu karena ibulah yang pertama kali memperkenalkan bahasa pada anak. Sebagai orang yang melahirkan, maka makhluk pertama yang ditemui anak adalah ibunya. Ibu adalah orang yang pertama kali berinteraksi dengan dia. Saat masih dalam kandungan, sudah ada interaksi anak dengan ibunya. Setelah lahir, saat menyusui, Ibu akan mengajarkan kepada anaknya doa walau anak belum bisa mengucapkannya. Peran inilah yang kemudian menjadikan bahasa pertama yang dikenalkan kepada anak disebut dengan bahasa ibu.

Bahasa ibu di Indonesia mencakup dua kategori besar yaitu bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Bahasa Indonesia juga tercakup dalam kategori bahasa nasional yang digunakan sebagai bahasa utama bangsa kita. Pelestarian bahasa daerah bukan hal yang bisa begitu mudah disepelekan. Mengingat, bahasa daerah adalah identitas kita sebagai bangsa "Bhinneka Tunggal Ika", yang kaya akan keberagaman dan warisan budayanya.

Jadi, perlu adanya program pemerintah dan masyarakat untuk lebih giat dalam menggalakkan pelestarian bahasa daerah di bumi pertiwi. Seperti konsep dalam definisinya, seharusnya bahasa daerah mulai diperkenalkan sejak kecil baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan kehidupan sosial.

Perlindungan terhadap bahasa ibu di Indonesia harus dilakukan dari hulu ke hilir. Menurut saya, muatan lokal pelajaran bahasa daerah di sekolah harus mendapat perhatian lebih. Bahasa daerah harus diajarkan dengan metodologi pengajaran yang menarik. Menjadi guru bahasa daerah sama pentingnya dengan menjadi guru bahasa Indonesia.

Tidak ada bahasa yang lebih baik dari bahasa lainnya karena setiap bahasa memiliki keunikan. Namun, bahasa daerah perlu dikuasai. Dengan cara mengenalkan bahasa daerah, maka akan timbul rasa sayang, kalau sayang sudah ada, cinta pun akan muncul. Jika sudah cinta pada bahasa daerah maka kebanggaan berbahasa pun akan muncul. Rasa bangga itu akan memudahkan dan membuat kita nyaman dalam berbahasa daerah sehingga secara tidak langsung bahasa daerah sudah dilestarikan. Dengan demikian, warisan budaya yang terkandung dalam bahasa daerah pun dapat dijaga melalui bangga dan cinta berbahasa daerah.

Orang tua harus sadar, pentingnya mengajari anak bahasa daerah. Tidak hanya bahasa Inggris atau matematika. Jangan lupa ajari anak bahasa daerah tempat kedua orangtuanya berasal. Mengajari anak bahasa ibu atau bahasa daerah tidak hanya bisa melestarikan bahasa asli Indonesia, namun juga membuat anak merasa bangga dan tidak lupa akan asal usulnya. Selain itu, mengajari anak bahasa ibu juga memiliki manfaat lain yang sangat penting bagi tumbuh kembangnya.

Pentingnya bahasa ibu atau bahasa daerah diterapkan kepada anak-anak agar bahasa daerah tidak punah. Sebagai generasi selanjutnya perlu adanya upaya dalam memelihara bahasa ibu atau bahasa daerah. Upaya pemeliharaan bahasa daerah perlu terus ditingkatkan untuk melestarikan warisan budaya dan memperkukuh jati diri masyarakat pengguna bahasa.

Olehnya itu, aku sangat merespon positif adanya mata pelajaran bahasa daerah di sekolah atau madrasah yang ada di daerahku. Alhamdulillah jika ada tugas bahasa daerah kedua buah hatiku dengan senang hati aku memberikan solusinya. Di daerahku bahasa bugis menjadi bahasa ibu bagi sebahagian besar keluarga. Kami berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah bugis. Penutur bahasa Bugis umumnya tinggal di Sulawesi Selatan. Wilayah penuturnya diantaranya Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Bone, Kabupaten Maros, dan lainnya.

Semoga peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional dapat kembali mengingatkan pada kekayaan bahasa dan budaya kita, serta ancaman kepunahan pada sejumlah bahasa daerah. Dalam setiap bahasa ibu, tersimpan rentang sejarah, perkembangan peradaban, dan filsafat bangsa kita. Prosesnya tidak berlangsung sehari-dua hari, tetapi ratusan tahun. Jadi, sungguh menyedihkan kalau kita tidak memiliki kebanggaan terhadap kekayaan bahasa kita sendiri.

Sinjai, 10 Februari 2022

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post