MARI RAWAT PERASAAN BAHAGIA SISWA SAAT BELAJAR DAN BERKARYA OLEH SITTI ASMAH, S.Pd.
#Tantangan Menulis Hari Ke-503
#Gurusiana_MGI
#Lomba Maret 2022
KOLOM
MARI RAWAT PERASAAN BAHAGIA SISWA SAAT BELAJAR DAN BERKARYA
OLEH: SITTI ASMAH, S.Pd.
Dalam konsep belajar menurut Ki Hadjar Dewantara (2009), “Pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”. Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”.
Di waktu pagi, anak berangkat ke sekolah dengan perasaan gembira. Mereka bangun pagi, mandi, berseragam, mengenakan sepatu, dan menenteng tas dengan penuh semangat berangkat ke sekolah. Mereka berharap dan berkeyakinan mendapatkan pengalaman baru saat di sekolah.
Sekolah yang baik tidak hanya mengajarkan materi pelajaran saja. Sekolah yang baik melengkapi pembelajaran dengan membangun komunitas belajar yang aman dan menyenangkan. Mengajarkan tentang pengetahuan diri, karakter, dan menyediakan suasana yang positif di sekolah.
Bermain adalah kegiatan paling menyenangkan bagi anak. Bila guru bisa menggabungkan konsep bermain dan belajar, siswa-siswa akan nyaman saat mengikuti proses belajar. Misalnya dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap bahan bacaan, guru bisa menggunakan dadu wartawan, yaitu dadu yang masing-masing sisinya ditulis pertanyaan 5W + 1H (what, who, when, where, why + how). Lalu guru bertanya mengenai enam pertanyaan tersebut berdasar bahan bacaan.
Kita tahu, bahwa setiap anak harus memiliki kemampuan dasar CALISTUNG (membaca, menulis, dan berhitung). Kita pun mengajarkan hal ini dengan penuh semangat hingga tidak sadar dengan munculnya tekanan pada diri anak. Mendorong anak terus berusaha untuk bisa sangat baik. Namun terlalu fokus dan menghabiskan tenaga untuk hal tersebut, sering membuat kita lupa tentang proses yang menyenangkan.
Tekanan yang diterima secara berlebihan membuat anak didik belajar dengan terpaksa. Meskipun ada nilai positif dari tekanan dan kompetisi dalam belajar, namun marilah kita berusaha mendidik dan mengajar dengan cara menyenangkan. Agar anak mencintai dirinya sendiri, mencintai belajar, dan mencintai sekolahnya.
Untuk itu, agar perasaan bahagia anak saat belajar dan bersekolah tetap terjaga, maka jagalah 3 hal ini!
1. Membangun lingkungan sekolah yang positif
Rasa Aman. Inilah yang pertama harus dibangun untuk memiliki lingkungan yang positif. Setiap anak harus merasa aman untuk berteman dengan siapa saja, berekspresi, dan berkarya. Di kelas, anak harus merasa aman untuk bertanya dan berpendapat tanpa ada kemungkinan dipermalukan.
Di lingkungan sekolah, anak juga harus merasa aman bersosialisasi dengan siapa saja tanpa takut menerima perlakuan kasar dari teman yang lain atau dibully. Rasa aman dan rasa diterima adalah syarat yang terpenting. Ketika merasa diterima, maka anak akan mengerti tentang dirinya dan mengerti bagaimana cara memotivasi dirinya. Guru yang menerima setiap karakter anak akan membantu anak didiknya untuk lebih baik dengan kasih sayang yang tulus.
2. Menegakkan peraturan
Peraturan sekolah dibuat untuk menjaga lingkungan yang positif dan melindungi warga sekolah. Yang tidak boleh kita lupakan sebagai guru adalah menjelaskan kenapa peraturan, penghargaan, dan hukuman itu dibuat. Dengan menjelaskan maka anak didik akan menyadari dan mengetahui fungsi peraturan tersebut.
Jika mendapat konsekuensi (hukuman) atas tindakannya, maka anak akan tahu bahwa setiap perilaku ada resikonya. Anak akan menyadari bahwa dia dihukum bukan karena gurunya benci atau tidak sayang. Justru, guru tersebut sayang dan ingin mengajarkan serta menunjukkan akibat-akibat yang akan diterima dalam hidup atas tindakan kita.
3. Menghargai setiap individu
Di kelas, misalnya, guru menyapa secara individu akan membuat anak merasa penting kehadirannya di kelas. Memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk memimpin adalah penghargaan yang sangat bagus terhadap pribadi anak. Setiap anak dikaruniai perasaan bahagia sejak lahir. Mari kita rawat perasaan bahagia anak saat belajar dan berkarya.
Sinjai_Kamis, 10 Maret 2022
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
