Air Mata Pejuang Garis Dua (3)
Move On ~
Andai suatu saat nanti semesta memberi ruang untuk bersua, semoga kita telah selesai dengan diri sendiri. Biarlah pertemuan itu menjadi ajang silaturahmi, bukan untuk saling menghakimi. Sepasang senyum tak lagi mencari makna dan kata-kata tak bercengkerama dengan rasa. Bertemu tanpa tuntutan, menyapa tanpa beban, dan berbincang tanpa perlu bertanya: ke mana kita selama ini?
Mungkin tiba saatnya aku harus bercengkerama dengan logika, menyimak kembali nasihat ayah tentang bagaimana semestinya memilih calon imam. Bukan sekadar sosok yang hadirnya menumbuhkan debar di dada, melainkan pribadi yang bahunya kekar untuk bersandar dan jiwanya matang serta senantiasa memberi terang.
Ayah selalu berkata bahwa pendamping sejati bukanlah yang gampang mengobral janji, melainkan yang bersedia berjalan bersama dalam sederhana, saling menguatkan saat lelah, dan tetap menjaga hati ketika rasa diuji. Dari kata-kata itu aku belajar, bahwa cinta bukan hanya tentang rasa ingin memiliki, tetapi tentang komitmen untuk menjaga rasa saling.
***
Kampung Asa, 15 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
