SRI WAHYUNI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Air Mata Pejuang Garis Dua

"Anggita, boleh aku bertanya sesuatu?"

Pertanyaan Ganeshi membuyarkan lamunanku. Ada debar halus yang bermain-main di dada. Apakah gerangan yang ingin dia tanyakan? Apakah ini ada hubungannya dengan Mas Gagas?

"Eh, ditanya kok malah ngelamun."

Ganeshi berucap sambil memanyunkan bibirnya. Ini adalah kebiasaannya jika sedang tak enak hati.

"Eh, iya. Mo nanya apa, say?"

"Maaf, apakah kamu mencintai Mas Taufan?"

Kutatap wajah Ganeshi yang terlihat sembab. Lagi-lagi aku merasa berdosa telah melukai dua hati yang selalu memberi aku perhatian istimewa.

"Apakah jawabanku segitu pentingnya?"

"Penting banget. Setidaknya aku harus memastikan bahwa calon kakak iparku tidak sedang bertindak nekat."

"Apaan sih, kakak ipar nggak jadi."

"Serius, Anggita sayang. Beri aku kepastian tentang perasaanmu kepada Mas Raihan."

"Entahlah, Echi. Tapi Mas Taufan orangnya baik."

"Syukurlah. Walaupun hatiku merasa kecewa berat, tetapi aku tetap mendoakan agar engkau senantiasa bahagia. Semoga Mas Taufan bisa menjagamu dengan segenap cinta."

Kalimat itu terucap lirih, seolah hanya angin senja yang berhak mendengarnya. Perih itu tak lagi mencari jalan lewat tangis, melainkan bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan untuk tetap ada.

***

Kampung Asa, 23 Januari 2025

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post