Air Mata Pejuang Garis Dua
~ Terlambat ~
Dear Raras,
Hari-hari yang aku jalani di negeri orang kerap terasa sunyi, walau lalu lalang kendaraan tak pernah berhenti menyapa telinga. Rindu yang tertahan menjelma rasa yang bergetar di dada, menghadirkan pilu yang mengusik malam-malamku.
Raras, sengaja aku membentang jarak agar pikiranmu tak terbelah. Aku ingin engkau fokus menuntaskan skripsimu tanpa terganggu oleh kehadiranku. Cita-cita menjadi seorang sarjana tak boleh kalah dengan urusan cinta.
Di saat yang sama, aku ingin menata langkah, menghimpun hari, dan menyiapkan masa depan yang pantas untuk aku persembahkan padamu. Walau kutahu, engkau bukanlah tipe gadis yang silau akan harta maupun takhta, namun dirimu terlalu berharga untuk disandingkan dengan masa depan yang tak pasti.
Lebaran nanti, akan kubuktikan pada orang tuamu bahwa aku bersungguh-sungguh mencintaimu. Bersabarlah, menunggu hari indah yang sesaat lagi akan menjadi milik kita.
Yang selalu setia menjaga hati:
Gasendra
Kulipat kertas bersampul biru darimu. Sejak awal membacanya, ada yang runtuh dari kedua sudut netra. Ah, biar saja. Biar saja sungai-sungai kecil itu berlari, mencari muaranya sendiri. Karena aku tak tahu, apa arti tangisan ini. Sedih, kecewa, atau marah? Atau sebuah lelucon yang memang pantas untuk ditangisi?
***
Kampung Asa, 19 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
