Air Mata Pejuang Garis Dua
Hari-hari menjelang Ramadan, langit senantiasa berwarna cerah. Seolah semesta ikut bahagia menyambut hadirnya bulan yang selalu dirindukan umat Islam. Hujan yang sesekali datang sepertinya ingin menyingkirkan debu-debu yang mengganggu pikiran dan bersarang di dada.
Sebelum Ramadan tiba, aku ingin merapikan hati dari sesal dan prasangka, menanggalkan segala gundah yang acapkali menyapa tanpa permisi. Biarlah teka-teki yang belum menemukan jawabannya kusimpan rapi dalam doa, sebab tak semua hal harus dipahami hari ini.
Untuk sebuah rasa yang hingga kini masih setia bertakhta, izinkan aku walau perlahan belajar melepaskan. Semesta telah mengajarkan bahwa tak semua rindu harus dipeluk bahagia, tak semua mimpi harus berlabuh di dermaga yang sama.
Ramadanku terlalu istimewa untuk dihadapi dengan cara yang biasa. Ramadan yang teduh harus kusambut dengan hati yang utuh, yang telah berdamai dengan luka, memaafkan kecewa, dan menanggalkan rindu yang tak lagi perlu disimpan.
Aku ingin hadir sebagai jiwa yang sederhana, yang telah mengambil jeda dari segala riuh yang kerap menyesatkan langkah. Aku ingin mengarungi kesejukan telaga Ramadan dengan tenang. Semoga di sana, hati menemukan beningnya kembali, niat dan doa mengalir jujur, khusyuk, dan penuh harap kepada-Nya.
***
Kampung Asa, 13 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
