Air Mata Pejuang Garis Dua Untuk Sebuah Nama
Untuk sebuah nama yang kini entah di sudut mana engkau berada, maafkan bila aku terpaksa menyudahi kegelisahan dengan mencoba menghapus namamu dari hatiku. Bukan karena enggan bersekutu dengan sepi, melainkan karena aku ingin belajar berdamai dengan kenyataan.
Terima kasih, engkau pernah menghadirkan hari-hari manis untukku. Walau hanya sejenak, aku bisa merasakan tulusnya perhatianmu. Hari-hari yang kini menjelma kenangan, tak lagi untuk direngkuh, tetapi cukup dikenang dengan senyum yang tenang.
Walau aku akui, kehadiranmu sungguh sangat berarti. Namun semenjak engkau pergi, aku tak lagi punya alasan untuk menggenggam hubungan yang dibiarkan menggantung. Segalanya tampak tak bermakna, seakan suaraku menggema pada kehampaan yang memilih diam dan menolak memberi balasan.
Demi kebaikan kita, atau demi aku yang selalu diburu rasa ragu, aku memilih berhenti menunggu selembar kabar darimu yang tak pernah dikabulkan oleh waktu. Perlahan, izinkan aku belajar melepaskan, bukan karena tak ada rasa, tetapi karena bertahan sendirian hanya akan menambah luka.
***
Kampung Asa, 14 Januari 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan