Bermain Hujan-hujanan
Jelang jam pulang kerja, mendung menggantung di langit senja. Cahaya nan redup meniupkan kantuk di pelupuk. Ah, dalam kondisi seperti ini sungguh nyaman membayangkan berlayar di pulau kapuk.
Ketika terdengar suara adzan, aku dan rekan-rekan yang satu ruangan segera beranjak untuk mengambil air wudhu. Rupanya hujan telah lebih dahulu menjejakkan kakinya di bumi. Riang sekali tampaknya kaki-kaki hujan menari di halaman madrasah.
Semakin lama, hujan semakin kencang berlari. Hingga kami selesai menunaikan ibadah salat Ashar, hujan tak jua menyudahi pekerjaannya. Mau tak mau, aku harus bersiap pulang dengan mengenakan jas hujan. Demi keamanan, tas kerja aku bungkus tas kresek rangkap tiga.
Menikmati perjalanan di bawah guyuran air hujan mengingatkan aku pada masa lalu. Saat kecil, aku sering bermain hujan-hujanan bersama teman-teman. Pemandangan seperti ini sekarang sudah jarang kita temukan, karena anak-anak sekarang lebih suka bermain gawai daripada berteman dengan alam.
***
Kampung Asa, 8 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan