Air Mata Pejuang Garis Dua
Cincin Belah Rotan
"Anggita Saraswati, apa yang terjadi? Apakah kejujuran abangku melukai perasaanmu?"
Ganeshi tampak cemas melihat aku menangis. Diraihnya kedua telapak tanganku, lalu digenggamnya erat-erat. Saat telapak tangan kiriku terangkat, tanpa sengaja pandangannya berlabuh pada cincin belah rotan yang melingkari jari manisku.
"Anggita, inikah jawabannya?"
Ada getar lirih dalam suara Ganeshi, lalu air matanya pun turut luruh tanpa aba-aba.
"Echi, maafkan aku."
Hanya itulah kalimat yang mampu keluar dari bibirku. Selebihnya, air mata yang bicara. Kami pun saling merengkuh, menyerahkan segala rasa pada pelukan yang menjelma bahasa paling jujur, mewakili perasaan yang tak lagi sanggup diucapkan.
"Tak bisa kubayangkan, bagaimana hancurnya hati Mas Gagas saat tahu bahwa cintanya hanya bertepuk sebelah tangan."
Sungai kecil kembali berlari menyusuri kedua pipi Ganeshi yang putih bersih. Sementara tatap matanya kosong.
"Ta, aku ngerasa berdosa pada abangku. Selama ini aku telah memberinya harapan semu. Aku terlalu yakin jika engkau pun punya perasaan yang sama terhadap abangku."
"Echi, maafkan aku."
Lagi-lagi hanya kalimat itu yang terucap.
"Aku tahu, engkau memang bunga desa yang banyak dikelilingi oleh kumbang dan kupu-kupu. Mungkin abangku hanyalah seekor lalat yang tak layak hinggap di dahanmu."
"Echi, kamu terlalu berlebihan. Aku menerima pinangan Mas Taufan karena kurasa tak ada lagi yang harus kutunggu kehadirannya."
"Jadi, selama ini kamu nggak peka membaca perhatian istimewa yang selalu Mas Gagas curahkan kepadamu?"
Hari-hari indah yang pernah kujalani bersama Mas Gasendra kembali tayang di benak. Dia yang selalu menghadiahkan es krim saat aku dan Ganeshi berhasil menjawab dengan baik soal-soal yang dia berikan ketika kami sedang belajar bersama. Kadang kami nonton bertiga, jalan-jalan ke mall atau ke pantai juga selalu bertiga.
Ada tenteram yang menjalar setiap kali aku berada di sisinya. Namun aku memilih menahan harap, sebab dalam benakku, kasih yang ia beri tak lebih dari cinta seorang kakak kepada adiknya.
***
Kampung Asa, 20 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
