Air Mata Pejuang Garis Dua
~ Maafkan Aku ~
"Anggita, hentikan kata maafmu. Mungkin kau dan abangku memang tak berjodoh. Walau aku sangat mengharapkan engkau menjadi kakak iparku, apalah daya."
Kata-kata Ganeshi terasa bagai sembilu yang menyayat hatiku.
"Andai saja Mas Gagas mengikuti saranku untuk meminangmu sebelum pergi mengadu nasib ke pulau seberang, mungkin ceritanya akan berbeda. Setidaknya masih ada harapan untuknya."
Air mataku kembali luruh. Lembaran berisi teka-teki yang telah kusimpan rapi, akhirnya kembali terbuka di hadapanku beserta jawabannya. Tapi, apalah artinya semua ini? Sementara aku sudah terlanjur melangkah di beberapa halaman berikutnya.
"Echi, tak ada yang perlu disesali. Selamanya, kita adalah dua hati yang saling mengerti."
"Lalu, bagaimana dengan abangku?" tanya Ganeshi dengan nada memelas.
Aku menghela nafas panjang dan mencoba mencari jawaban yang tak melukai. Tapi, bagaimana bisa? Fakta bicara bahwa keputusanku telah menghadirkan luka yang begitu dalam, di hati sahabatku dan di hati abangnya yang selama ini selalu menghujani aku dengan perhatian, ketulusan, dan pengertian.
Mas Gasendra adalah sosok abang yang begitu penyayang. Hari-hariku telah banyak kuhabiskan bersamanya dan tak satu pun yang berhias air mata. Selama ini Mas Gagas selalu memperlakukan aku sebagaimana dia memperlakukan Ganeshi, adiknya. Ironisnya, aku justru membalas segala kebaikannya dengan menghadirkan luka dan kecewa.
***
Kampung Asa, 22 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan