Pantai Asmara
Di Pantai Asmara, aku ingin kembali menghadirkan canda dan tawa yang pernah tumbuh sederhana di antara bisik pasir dan angin semilir. Dalam senyap, aku ingin memungut setiap perca kenangan, lalu menatanya pelan-pelan di tepi hati.
Sambil menatap ombak berlari, aku belajar mengerti bahwa datang dan pergi adalah bagian dari sebuah perjalanan. Tak perlu menangis ketika yang ada dalam dekapan tiba-tiba menjauh, karena ada masanya ia akan kembali datang menghampiri.
Menghadirkan masa lalu bukan berarti memelihara luka, melainkan merawat rindu agar tetap tumbuh dan menjadi jalan pulang. Bukan rindu pada yang fana, melainkan rindu pada dzat Yang Maha Sempurna.
Biarlah luka sejenak singgah, sebagaimana mendung yang kadang datang tanpa aba-aba. Aku yakin bahwa gelapnya bukan untuk memenjarakan luka, melainkan mengajari hati untuk ikhlas menjalani.
Pada akhirnya, pasrah adalah dermaga terindah. Meskipun badai belum sepenuhnya reda, jiwa terasa damai karena telah bersandar pada Yang Maha Menjaga. Aku yakin bahwa luka sejatinya adalah bahasa cinta-Nya, cara lembut Allah merengkuh kita dalam pelukan kasih-Nya.
***
Kampung Asa, 4 Januari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
