SRI WAHYUNI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

GALAU

Ketika mati lampu, tak ada yang bisa aku tuliskan selain kegalauan. Bagaimana nggak galau jika aku tak bisa apa-apa dalam keadaan gulita seperti ini.

Padahal waktu kecil, aku sangat terbiasa tanpa listrik. Waktu itu belum ada PLN dan kami berlangganan listrik diesel milik tetangga. Hidupnya jelang petang dan mati pukul 12 malam. Jadi, dalam sehari hanya sekitar 7 jam kami menikmati penerangan dari listrik. Selebihnya menggunakan "damar oblik" atau pelita yang menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Kala itu, walaupun tanpa listrik, kami "fine-fine" aja. Hidup tanpa kulkas, tanpa mesin pompa air, tanpa mesin cuci, bahkan tanpa televisi sama sekali tak membuat kami merana. Mau minum air dingin tinggal tuang dari kendi. Mau ambil air dari sumur tinggal mengerek. Mau cuci baju, harus "kucek-kucek hotahe." Butuh hiburan, bermain bersama teman di bawah sinar rembulan.

Zaman dahulu, sungguh asyik dan seru. Setiap pekerjaan harus bermodal keringat. Dampaknya, tubuh lebih sehat dan kuat. Kalau sekarang, kita lebih banyak dimanjakan oleh keadaan. Akibatnya, berkurang sedikit saja nikmatnya sudah galau dan uring-uringan. Ambyar.

***

Kampung Asa, 1 Februari 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post