Maafkan Daku
Hari ini, kita hanya bisa saling tatap dari kejauhan. Meski hati ini rindu berat, namun aku tak bisa mendekat. Maafkan, bukan karena tak sayang bila aku tak datang. Ada sesuatu yang membuat aku harus memendam rindu.
Tugas di sekolah benar-benar tak dapat kutinggalkan. Aku tak punya guru pengganti sehingga bila aku nekat pergi, kelasku akan kosong. Duh, tak bisa kubayangkan bagaimana hebohnya siswa ketika kelas kosong. Lagi pula, meninggalkan mereka itu rasanya beban sekali.
Dari jauh, aku tetap mengikuti giat yang teman-teman lakukan. Walaupun tak bisa maksimal, setidaknya aku bisa menurutkan kata hati untuk terus berada di antara panjenengan semua. Semoga ke depan, aku bisa lebih giat lagi.
***
Kampung Asa, 2 Februari 2025
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan