Pikun Kebangetan
Hari ini aku ada jadwal terapi. Mumpung masih liburan, kembali aku diantarkan oleh Pak Su. Manja-manja dikit, gitu ceritanya.
Sebelum berangkat, Pak Su mengingatkan agar barang-barang yang dibutuhkan tidak ada yang ketinggalan. Bukan tanpa alasan Pak Su mengingatkan aku. Soalnya aku itu pelupa kelas dewa. Saat terapi yang lalu, kartu berobat, rujukan, dan kawan-kawan ketinggalan. Untungnya, ketahuan saat belum terlalu jauh dari rumah.
Nah, untuk menghindari hal yang sama terjadi, sejak akan mandi aku sudah menyiapkan surat rujukan dan teman-temannya, dompet, dan kacamata. Setelah siap semuanya, barulah aku mandi dan berganti pakaian, serta berdandan ala kadarnya. Kalau ala artis tar dikira mau kondangan. Ha....
Dengan PD, aku naik ke boncengan scoopy dan berangkat bersama Pak Su. Sengaja kami tak bawa mobil karena khawatir macet. Kalau naik motor bisa sat-set, begitu kata Pak Su.
Kira-kira setengah perjalanan, aku bermaksud menengok chat WA dan ternyata gawainya kucari dalam tas nggak ada. Tiba-tiba saja aku jadi ingat kalau si gawai masih aku charger. Ampyun, ternyata pikunku kebangetan ya?
Untung saja Pak Su orangnya super sabar. Tanpa bersuara keras, hanya sedikit protes, beliau langsung putar balik. Harusnya sampai RS, masih sampai rumah lagi. Artinya, perjalanan untuk terapi hari ini harus menempuh rute yang lebih panjang. Jadi ingin nangis rasanya.
***
Kampung Asa, 27 Maret 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan