Mbak Manda
Mbak Manda, sejak umur beberapa hari sudah ditinggalkan oleh ayah ibunya untuk bekerja di kota. Demi masa depannya, ia yang masih merah harus rela hidup berjauhan dengan orang tua dan tinggal bersama kakek dan neneknya.
Ketika Mbak Manda lahir, ayah dan ibuku masih sehat. Masih teringat olehku saat Mbak Khotim, ibunda Mbak Manda "dipaksa" makan daging oleh ayah agar asinya berkualitas. Saat makan dia ditunggui ayah sehingga tak bisa menolak perintah mbah kakungnya. Lucunya, Mbak Khotim nggak muntah. Berarti dia bukan nggak doyan daging, cuman nggak suka aja.
Nenek Mbak Manda, Mak Yah adalah kakakku. Waktu ibu sakit, Mak Yah harus wara-wiri Paseban-Sidodadi untuk membantu aku merawat ibu. Aku dan suami yang sama-sama bekerja, hampir tak punya waktu untuk merawat ibu. Sedih sekali bila ingat itu.
Beruntung aku punya kakak yang pengertian. Mak Yah selalu siap pasang badan, menjaga dan merawat ibu. Sementara kakak iparku pun selalu mendukung Mak Yah untuk merawat ibu, meskipun harus meninggalkan cucunya, Mbak Manda kecil yang sebenarnya juga masih membutuhkan perhatian neneknya.
Waktu begitu cepat berlalu. Kini Mbak Manda sudah menjadi guru dan telah memulai hidup yang baru. Semoga ayah dan ibu di sana turut bahagia menyaksikan cicitnya menikah. Al Fatihah.
***
Kampung Asa, 12 April 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan