Membeli Mimpi
Ketika malam kian erat memeluk sepi, hati ini masih saja enggan bersekutu dengan keadaan. Berjuta kata mutiara yang sengaja kuhadirkan, hanya singgah sejenak dalam benak. Selanjutnya, anganku kembali terseret dalam pusaran waktu yang membelenggu.
Air mata yang tengah berlomba menyusuri kedua pipi sengaja kusembunyikan keberadaannya dari Pak Su. Biarlah dia menikmati tidurnya untuk mengobati penat setelah tadi memegang kemudi dari Bangil ke Jember, menggantikan si sulung yang harus kembali ke tempat kosnya karena keesokan harinya harus kembali bekerja.
Di balik bantal, ada isak yang dengan susah payah kucegah tapi tetap membandel. Entah apa namanya, yang jelas rasa ini baru pertama kurasakan. Gelisah, ragu, pilu, dan cemas seakan campur aduk menjadi satu. Ya Rabb, aku adalah seorang ibu yang menolak dianggap rapuh. Akan tetapi, mengapa air mata justru lebih nyaring bicara?
"Ya Rabb, bolehkah aku menitipkan dia kepada-Mu? Jagalah dia ketika penjagaanku tidak sampai kepadanya. Izinkan dia menjemput takdir
indahnya bersama rida-Mu."
Kusampaikan permohonan ini dengan hati, dengan segenap keyakinan bahwa Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mendengar pintaku. Seketika ada sejuk yang mengalir di relung jiwa. Menyerahkan segala persoalan kepada-Nya ternyata membuat jiwa merasa jauh lebih tenang dan damai.
***
Kampung Asa, 7 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan