Membeli Mimpi (3)
Pramugari, entah sejak kapan kata ini mulai akrab di telinga. Mungkin sejak si bungsu duduk di bangku SD atau MTs. Entahlah, yang jelas aku tak seberapa peduli.
Kala si bungsu berceloteh riang tentang impiannya menjadi pramugari, aku hanya bersikap cuek bebek. Tak ada kata "wow" ataupun tepuk tangan sebagai bentuk dukungan. Tidak ada sama sekali.
Bukan tak sayang pada anak, jika aku memilih diam seribu bahasa. Aku yang tak ingin anak-anakku jauh dariku, sudah pasti enggan melirik profesi yang konon gajinya cukup menjanjikan ini.
Pramugari sudah pasti akan pergi ke sana ke mari. Ibarat layang-layang yang riang bermain di angkasa dan aku hanya bisa menatapnya dengan segumpal rindu yang entah kapan akan berujung temu.
Ah, membayangkan saja sudah tak nyaman, apalagi jika ini benar-benar terjadi. Nah, bagaimana bisa aku merelakan si bungsu yang biasa kupanggil Adik Syantikku memilih profesi ini untuk masa depannya?
(Bersambung)
***
Kampung Asa, 8 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan