Membeli Mimpi
Perjalanan Jogja-Jember sungguh melelahkan. Sekitar 11 jam lamanya, kami menaklukkan jarak dengan istirahat sejenak untuk sarapan, salat jamak Duhur dan Ashar, serta makan siang. Oh ya, masih ada lagi, salat jamak Maghrib dan Isya, serta beli oleh-oleh.
Sampai di rumah, usai bebersih diri, tak tahan rasa hati melihat pulau kapuk yang terhampar di lantai. Tanpa aba-aba, aku langsung menjatuhkan diri dengan harapan bisa mengusir penat dengan tidur nyenyak.
Detik-detik berlalu dan mata ini enggan terpejam. Rasa kantuk yang sejak tadi mengusik netra tanpa permisi akhirnya memilih pergi dan berganti dengan riuhnya angan-angan. Ada asa yang ingin kugenggam, tetapi butuh keberanian untuk melangkah menembus keraguan.
Malam ini, untuk pertama kali rumah terasa sepi karena si bungsu tak lagi tinggal bersama kami. Merelakan dia menetap sementara nun jauh di sana demi menggapai cita-cita ternyata tak semudah teori yang berjejal di kepala.
Dia, si bungsu yang seharusnya masih bermanja-manja kepada emak dan bapaknya, juga kedua abangnya, kini harus melakukan hal yang berat: jauh dari keluarga. Dia yang sejak bayi tak pernah berpisah, kini harus merelakan jarak menjadi jurang pemisah.
Ada haru yang menggenang di sudut mata, ada rindu yang belum sempat lahir namun sudah terasa betapa beratnya. Aku tahu, sebagai ibu, aku harus merelakanmu. Aku tak ingin rasa ini menjadi penghalang langkahmu dalam menggapai masa depan. (Bersambung)
***
Kampung Asa, 6 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan