SRI WAHYUNI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Membeli Mimpi

Impian si bungsu akhirnya aku anggap angin lalu. Di tengah kegelisahan yang datang melanda, aku mencoba menyalakan pijar harapan bahwa waktu akan mengubah segalanya. Biarlah hari ini si bungsu kesayanganku berceloteh riang tentang impian menjadi pramugari. Barangkali esok atau lusa, dia akan mengubah arah kemudi, memilih profesi yang lain, yang tak membuat dia jauh dariku.

Hari-hari berlalu dan aku dibuatnya terkejut ketika membaca tulisannya yang bercerita tentang impian yang selalu digenggamnya erat-erat. Waktu itu, tepatnya saat Adik syantikku kelas 8 dan aku bertugas sebagai pembimbing literasi di kelasnya, aku dibuatnya terpaku. Dalam esai yang ditulis dia, Zukhrufin Nada Sabiila Hayuni, untuk mengikuti lomba di MediaGuru yang kebetulan temanya adalah cita-cita, Adik bercerita tentang cita-citanya yang tak mendapat restu ibu.

"Sejak kecil aku bermimpi jadi pramugari dan hingga kini aku masih menggenggam mimpi itu. Aku tahu, mamaku tak merestui cita-citaku. Akan tetapi, aku akan tetap memperjuangkannya. Aku akan buktikan pada mama bahwa aku bisa."

Deg, dada ini rasanya nano-nano. Dalam hati aku juga bertanya-tanya, "Kapan aku bilang tidak setuju?"

Perasaan, aku tak pernah memberikan pernyataan kontra atau kalimat yang bernada menentang saat Adik Syantikku bercerita tentang cita-citanya. Seingatku, aku hanya bersikap pasif. Tak ada jempol apalagi tepuk tangan yang aku hadiahkan sebagai apresiasi terhadap pilihannya.

Mungkin aku seorang ibu yang egois. Aku tak mau anakku menjadi dirinya sendiri. Sebaliknya, aku ingin dia tumbuh dan berkembang seperti inginku. Andai tak mau jadi guru seperti yang kuinginkan, dia boleh memilih yang lain dengan catatan kelak dia tetap di dekatku.

"Ma, jangan karena dulu kakung bersifat over protektif trus Mama balas ke aku."

Kalimat itu beberapa kali dijadikan senjata oleh Adik untuk memprotes keakuanku. Yang jelas, aku tak mau kalah dong.

"Mama bersikap seperti ini karena Mama terlalu sayang sama Adik. Tolong ini dicatat."

Kalimat sakti ini juga selalu aku jadikan jurus untuk merayunya agar mau menurut.

"Aku ngerti, Ma. Tapi soal cita-cita biar aku sendiri yang tentuin."

"Kenapa Adik ingin jadi pramugari?"

"Karena aku suka travelling."

Aku tersenyum lega, merasa ada celah untuk kembali merayunya.

"Kalau cuman healing, siapa pun bisa asalkan dompetnya tebal. Ayo, Dik! Cari jurusan yang lain. Mungkin ekonomi, informatika, Bahasa Inggris, atau apa aja dah. Kalau bisa kuliahnya di Jember. Nanti kita tinggal di rumah Jember dan sesekali Adik bisa ngantar jemput Mama ke sekolah."

Begitu semangatnya aku melancarkan jurus rayuan gombal hingga tak menyadari bahwa si dia sudah mulai manyun bibirnya. Lalu, tanpa permisi dia tinggalkan emaknya. Mungkin dia lelah. Wakakak.

***

Kampung Asa, 9 Juni 2026

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post