Membeli Mimpi (6)
Buatmu yang kini jauh dari tatapku, izinkan aku menuang rasa pada secarik kertas biru. Setumpuk rindu yang menjadi catatan waktu akan senantiasa menjelma dalam doa panjang. Kutitipkan namamu dalam bentang sajadah, semoga jalan yang engkau lalui senantiasa dipermudah.
Ketika hatimu sedang gundah, tataplah langit biru di atas sana. Ia selalu mengajarkan bahwa setelah mendung yang panjang, selalu ada terang yang kembali datang. Meskipun malam tak pernah alpa menghadirkan gelap, masih ada bintang dan rembulan yang setia menemani kita dengan terangnya.
Tetaplah tersenyum, anakku. Walau hari-hari kadang tak mudah untuk dilalui, jangan biarkan hatimu kehilangan cahaya. Ingatlah bahwa Allah senantiasa menemani setiap langkah, mendengarkan setiap doa yang engkau panjatkan, dan memahami luka yang tak sanggup engkau ceritakan.
***
Kampung Asa, 13 Juni 2026
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan