SRI WAHYUNI

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

Pasrah

Konsisten menulis itu tak mudah. Berbagai kendala acapkali hadir, mencoba mematahkan semangat untuk menulis. Kesibukan, jaringan tak ramah, kering ide, mager, dan masih banyak kesulitan lain yang jika kita ikuti akan membuat kita benar-benar berhenti.

Saya mengikuti tantangan menulis setiap hari dari Gurusiana sejak akhir 2020, tepatnya setelah mengikuti Diklat Sagu Sabu yang diselenggarakan oleh KPPL Kemenag Jember. Di tengah keterbatasan saya sebagai penulis pemula, saya berusaha sekuat tenaga untuk konsisten menulis.

Usaha tak mengkhianati hasilnya. Jerih payah saya akhirnya berbuah manis, saya bisa sampai di tangga 365 dan buku solo kedua terlahir dari tabungan tulisan di Gurusiana. Berhasil menundukkan tantangan membuat saya kian getol menulis. Berbagai kelas dan komunitas pun saya ikuti demi mengasah keterampilan menulis.

Lulus 365, saya terus menulis dan menulis. Sayangnya, perjalanan selanjutnya tak semulus perjalanan perdana. Di episode selanjutnya, berkali-kali tulisan saya gagal tayang karena sistem yang eror. Saya tak pernah menyalahkan sistem, tetapi menyalahkan diri sendiri karena selalu posting di ujung waktu.

Pengalaman paling menyedihkan adalah ketika saya mengikuti TOT Fasda di Jogja. Perjalanan seharian dari Jember ke Jogja membuat jiwa dan raga terasa penat. Akan tetapi, demi mempertahankan konsistensi dalam menulis, saya tetap berjuang melawan lelah dan kantuk hingga tuntas menghasilkan sebuah tulisan.

Ironisnya, saat hendak memberi judul yang tepat untuk tulisan itu, saya pun tertidur pulas. Esok paginya, begitu terbangun saya langsung sadar bahwa semalam belum memosting tulisan. Besty, sepanjang sejarah mengikuti tantangan, baru kali ini saya benar-benar merasa frustasi.

Kekecewaan mendalam atas kegagalan ini membuat saya untuk pertama kalinya berhenti menulis. Namun, ternyata perseteruan saya dengan Mbak Ana (Gurusiana) hanya bertahan beberapa hari. Ada yang terasa hilang ketika saya tak bersua Mbak Ana. Mungkin inilah yang dinamakan rindu berat.

Sejak peristiwa pahit itu, saya kembali konsisten menulis. Ketika satu hari saya gagal posting, esoknya saya kirimkan dua tulisan dan menghitungnya kembali dari angka satu. Sadis ya? Enggak juga sih, karena cinta itu memang butuh pengorbanan.

Kembali ke niat awal, saya mengikuti tantangan Gurusiana bukan untuk mencari level tertinggi. Akan tetapi, niat utama saya adalah untuk mengasah keterampilan menulis. Dari Gurusiana, saya juga mendapatkan banyak pelajaran berharga, di antaranya lebih lancar menulis (walaupun belum baik), belajar menundukkan ego, belajar manajemen waktu, dan memperluas jaringan pertemanan.

Bismillah, hari ini saya kembali berangkat dari angka satu karena tulisan kemarin lupa diposting, walaupun sebenarnya sudah saya selesaikan pada pagi harinya. Saya tak marah pada diri sendiri atas keteledoran ini. Justru saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa.

Dari kesalahan ini saya memahami bahwa manusia memang makhluk yang lemah. Kekuatan dan kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Oleh karena itu, saya ingin menyerahkan segala urusan saya hanya kepada Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

***

Kampung Asa, 9 Juli 2026

Tagur Hari I

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post