Kicak
Kicak adalah jajan pasar favoritku yang sekarang sudah sangat langka. Bahkan saat aku hamil si bungsu, kue ini sudah sulit dicari. Aku sampai berburu ke beberapa pasar demi mendapatkannya. Namun, hasilnya nol. Untung saja waktu itu ada sepupu yang iseng membuatnya. Aku sangat girang ketika mbakku memberikan kue itu dalam jumlah yang banyak. Kapan hari, tak sengaja aku kembali bersua dengan kicak. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan pulang dari rumah tukang pijat yang mengobati adik ipar. Saat melihat penjual jajan pasar, kami langsung berhenti. Melihat kicak, sudah pasti aku langsung tertarik untuk membeli. Lupis dan klepon yang ikutan nampang, tak lagi menggoda. Inginku hanya satu, menyantap kue masa lalu yang hingga kini masih sering tayang di benak. Hm, tenyata lidahku masih sama seperti dulu. Lebih cocok dengan kue-kue jadul masa lalu daripada kue zaman now seperti krepes, burger, dan sebagainya. Ada yang satu aliran denganku? Kalau ada, berarti usia kita tak jauh beda. Wakakak. *Kampung Asa, 4 September 2026# Tagur hari ke-57
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan