ST. SHOBIBUL BAROKAH

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

37. Perjalanan Ramadhan Ku

Suara mesin diesel untuk penerangan lampu seluruh desa dengan PK besar itu, cukup memekakkan telinga. Apalagi rumahku persis berada di belakang ruangan penyimpanan mesin diesel. Setiap senja mulai menapakkan kakinya, disitulah mulai geliat mesin mengaum-aum. Itulah kondisi desaku semasa aku masih kecil. Belum ada PLN yang masuk ke desa. Namun demikian, desaku yang kala itu berada di kondisi yang masih minim penerangan, tetapi tidak menyurutkan niatku untuk mulai belajar berpuasa Ramadhan serta belajar salat Taraweh di masjid. 

Ketika awal belajar puasa penuh kelas 2 MI, aku pernah batal puasa dikarenakan ketika pagi hari aku lupa mengincipi gulali yang sudah aku buat ketika sore hari. Namun, ada temanku yang mengingatkan jika saat itu aku sedang berpuasa. Saat itu juga aku muntahkan dan berkumur untuk menghilangkan rasa yang tersisa.

Saat waktu tarawih tiba, aku pun dengan semangat mengikutinya. Sebagai peserta anak-anak, tentunya aku belum bisa lengkap megikuti rakaatnya. Terkadang ikut salat terkadang tidak ikut, pokoknya sesuai kata hati aja. Di sela-sela jeda tidak ikut salat itu, aku gunakan untuk ngemil jajanan yang sudah aku bawa bersama teman-temanku tentunya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post