Dr. Sudarmi, S.Pd., M.Pd., Gr.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Hujan Pun Menangis Merelakan Kepergianmu Tanpa Pamit

Hujan Pun Menangis Merelakan Kepergianmu Tanpa Pamit

Senja di pantai itu selalu tahu cara menyimpan rahasia. Ia menyembunyikan luka di balik semburat jingga, menenangkan gelombang yang tak pernah benar-benar tenang, dan merangkul angin yang membawa kabar-kabar yang tak pernah selesai. Di sana, di antara pasir yang dingin dan laut yang berdebar, aku pernah percaya bahwa segala yang datang akan tinggal.

Hari itu, langit menggantung rendah, seolah ingin mendengar percakapan terakhir yang tak pernah sempat kita ucapkan. Awan-awan berarak perlahan, seperti langkah kaki yang ragu meninggalkan rumah. Aku berdiri di bibir pantai, memandang garis cakrawala yang samar, berharap menemukan bayanganmu di antara riak ombak yang pulang-pergi tanpa lelah.

Kita pernah duduk di sini, ingat? Saat senja menua dan langit memerah seperti pipi yang dipenuhi harap. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi yang ingin kau kejar, tentang kota-kota jauh yang belum sempat kau sentuh, dan tentang bagaimana hidup tidak pernah benar-benar menetap di satu tempat. Aku mendengarkan, meski di dalam hati ada gemuruh kecil yang menolak kemungkinan bahwa suatu hari nanti kau akan pergi.

“Kalau suatu saat aku pergi,” katamu pelan, menatap laut yang tak pernah menjawab, “jangan tunggu aku terlalu lama.”

Aku tersenyum waktu itu, mengira kata-katamu hanya sekadar angin lalu, seperti ombak yang datang dan hilang tanpa bekas. Aku tidak tahu bahwa kalimat sederhana itu adalah isyarat, sebuah salam perpisahan yang terselip di antara tawa yang kita bagi.

Hari demi hari berlalu seperti pasir yang jatuh dari genggaman. Kita masih sering bertemu, masih berbagi cerita, masih tertawa di bawah langit yang sama. Namun ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kujelaskan. Tatapanmu mulai menjauh, seperti perahu yang perlahan meninggalkan dermaga tanpa suara.

Lalu suatu hari, kau benar-benar pergi.Tanpa pesan. Tanpa kabar. Tanpa jejak yang bisa kuikuti.Hanya senyap yang tertinggal, menggantung di udara seperti pertanyaan yang tak pernah menemukan jawabannya.

Aku kembali ke pantai itu, tempat kita pernah menanam kenangan. Senja kembali datang, setia seperti biasa, namun kali ini ia terasa berbeda. Warnanya lebih redup, seolah kehilangan sesuatu yang dulu membuatnya bersinar.

Angin berembus pelan, membawa aroma asin laut yang kini terasa lebih pahit. Aku berjalan menyusuri garis pantai, membiarkan kakiku tenggelam dalam pasir yang lembut. Setiap langkah terasa berat, seakan ada kenangan yang mencoba menarikku kembali ke masa lalu.

“Kenapa kau pergi?” bisikku pada laut yang luas.Ombak menjawab dengan debur yang panjang, seperti keluhan yang tak bisa diterjemahkan. Ia datang, menyentuh kakiku, lalu pergi lagi, meninggalkan dingin yang merambat perlahan. Sama seperti dirimu datang dengan kehangatan, lalu pergi tanpa penjelasan.

Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan memudar, digantikan oleh abu-abu yang menggantung berat. Awan-awan berkumpul, seperti hati yang penuh dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan. Aku menengadah, mencoba memahami bahasa langit yang tak pernah benar-benar sederhana.Dan kemudian, hujan pun turun.

Rintik pertama jatuh pelan, menyentuh wajahku seperti tangan yang ragu. Lalu semakin deras, seolah langit tak lagi mampu menahan beban yang dipikulnya. Hujan itu dingin, namun di dalamnya ada sesuatu yang hangat sebuah kesedihan yang terasa begitu akrab.Aku berdiri di sana, membiarkan tubuhku basah, membiarkan air hujan menyatu dengan air mata yang tak lagi bisa kubendung.

“Hujan pun menangis,” gumamku lirih. Ia menangis untuk apa yang hilang. Untuk kata-kata yang tak sempat diucapkan. Untuk perpisahan yang tak pernah diberi kesempatan untuk terjadi dengan layak.

Di tengah derasnya hujan, aku merasa seolah tidak sendirian. Seolah langit memahami betapa sulitnya merelakan sesuatu yang pergi tanpa pamit. Seolah setiap tetes air yang jatuh adalah bentuk empati yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Aku teringat pada caramu tersenyum, pada suara tawamu yang ringan, pada cara matamu berbinar ketika menceritakan hal-hal sederhana. Semua itu kini terasa seperti potongan mimpi yang terpisah dari kenyataan.

“Apakah kau baik-baik saja di sana?” tanyaku pada angin.Angin tidak menjawab, hanya berlalu, membawa pergi kata-kataku entah ke mana. Mungkin ke tempatmu berada. Mungkin hanya hilang di antara riak laut yang tak pernah diam.

Waktu terus berjalan, meski rasanya seperti terhenti di tempat. Hari-hari berlalu tanpa kehadiranmu, dan aku mulai belajar bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan peringatan. Ia bisa datang tiba-tiba, seperti hujan di senja yang tak pernah kita duga.

Aku mulai memahami bahwa tidak semua cerita memiliki akhir yang jelas. Tidak semua perpisahan diberi kesempatan untuk diucapkan. Dan tidak semua yang kita cintai akan tinggal selamanya.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang tetap bertahan yaitu kenangan.Ia tidak pergi. Ia tidak meninggalkan. Ia tinggal, bersembunyi di sudut-sudut hati yang paling dalam, muncul sesekali ketika senja datang atau ketika hujan turun tanpa aba-aba.

Di pantai itu, aku akhirnya belajar merelakan. Bukan karena aku ingin melupakanmu, tetapi karena aku tahu bahwa memaksamu untuk tetap tinggal hanya akan menyakiti lebih dalam. Aku belajar bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Kadang, ia berarti membiarkan pergi, meski hati menolak dengan segenap daya.

Hujan perlahan reda. Langit mulai membuka dirinya, menyisakan sisa-sisa cahaya yang redup namun hangat. Senja telah hampir usai, berganti dengan malam yang membawa kesunyian yang berbeda.

Aku menarik napas panjang, merasakan udara yang masih basah oleh hujan. Ada rasa kosong, namun di dalamnya juga ada ketenangan yang perlahan tumbuh. “Mungkin ini memang jalanmu,” kataku pelan, seolah kau bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya sejak kau pergi, aku tidak lagi menunggu.

Aku masih akan datang ke pantai ini, masih akan menyapa senja, masih akan mendengar suara ombak yang tak pernah lelah bercerita. Namun kini, aku datang bukan untuk mencarimu, melainkan untuk berdamai dengan diriku sendiri. Karena pada akhirnya, aku mengerti bahwa bahkan hujan pun harus berhenti menangis, dan langit harus belajar kembali cerah, meski pernah kehilangan sesuatu yang begitu berarti. Dan aku, seperti senja di pantai ini, akan terus ada meski dengan warna yang berbeda.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post