Dr. Sudarmi, S.Pd., M.Pd., Gr.

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
SETIPIS KERTAS KESETIAANMU

SETIPIS KERTAS KESETIAANMU

Purnama malam ini bukan sekadar lampu gantung di langit semesta; ia adalah mata raksasa yang picik, mengintip ke dalam rongga dada manusia dengan cahaya peraknya yang kejam. Di beranda tua yang kayu-kayunya mulai mengeluh dimakan usia, Laras berdiri mematung. Angin laut membawa aroma garam dan pembusukan, sebuah kombinasi yang anehnya terasa akrab bagi hidungnya. Di atas sana, rembulan menggantung seperti piringan porselen yang terlalu matang, seolah-olah jika ada satu suara saja yang cukup melengking, ia akan retak dan tumpah menjadi pecahan kaca yang menghujam bumi.

Laras meremas selembar surat di tangannya. Kertas itu tipis begitu tipis hingga ia bisa melihat bayang-bayang jemarinya sendiri di balik serat-serat selulusa yang pucat. Kertas itu adalah segalanya yang tersisa dari Arga. Seorang lelaki yang dulu berjanji bahwa cintanya sedalam palung dan seteguh karang, namun pada akhirnya, semua itu tereduksi menjadi baris-baris kalimat di atas medium yang bisa hancur hanya oleh setetes air mata.

"Setipis kertas," bisik Laras pada sunyi. Suaranya serak, tertelan oleh debur ombak yang menghantam tebing di bawah sana. "Kesetiaanmu ternyata hanya setipis kertas, Arga."

Ia teringat malam purnama tiga tahun lalu. Di tempat yang sama, di bawah pendar yang serupa, Arga berlutut. Saat itu, bulan tampak seperti saksi yang agung, bukan hakim yang dingin. Arga mengatakan bahwa ia akan pergi menyeberangi samudera untuk menjemput masa depan, dan Laras adalah jangkar yang akan selalu membuatnya pulang. Namun, malam ini, kebenaran itu datang tanpa jubah kebesaran. Kebenaran itu datang melalui amplop berstempel luar negeri yang isinya adalah sebuah pengkhianatan yang dibungkus dengan diksi yang rapi.

Laras menatap bulan lagi. Cahaya purnama itu menyapu permukaan laut, menciptakan jalan setapak perak yang seolah-olah menuju ke arah antah-berantah. Ia membayangkan Arga di sana, di balik garis cakrawala, mungkin sedang menggenggam tangan wanita lain di bawah bulan yang sama. Apakah bulan yang sama itu memberikan cahaya yang berbeda bagi mereka? Apakah bagi Arga, purnama adalah perayaan, sementara bagi Laras, ia adalah otopsi atas bangkai harapan?

Ia kembali memandang surat itu. Kata-kata di dalamnya terasa tajam, meski ditulis dengan tinta biru yang lembut. “Maafkan aku, Laras. Hidup di sini terlalu nyata, sementara kenangan tentangmu mulai terasa seperti mimpi yang perlahan menguap.”

Kalimat itu berdenyut di kepala Laras seperti migrain yang tak kunjung sembuh. Bagaimana mungkin sebuah pengabdian selama bertahun-tahun bisa dianggap sebagai "mimpi yang menguap"? Apakah janji-janji itu memang tidak pernah memiliki bobot? Ataukah manusia memang tercipta dari bahan yang begitu rapuh, sehingga jarak dan waktu mampu mengikis substansi jiwa hingga hanya menyisakan kulit luar yang tipis?

Laras melangkah ke tepi beranda. Angin malam mengecup keningnya dengan dingin yang gigil. Ia mengangkat surat itu tinggi-tinggi, membiarkan cahaya purnama menembus permukaannya. Di bawah sinar yang benderang itu, tulisan tangan Arga tampak seperti barisan semut yang sedang menggali kubur. Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan: kesetiaan Arga bukan hancur karena badai besar atau tragedi yang megah. Ia hancur karena ia memang tidak pernah tebal. Ia setipis kertas yang mudah terkoyak oleh angin sepoi-sepoi kenyamanan baru, mudah terbakar oleh api nafsu yang sesaat, dan mudah lumat oleh air hujan rutinitas.

"Kau tahu, Rembulan?" Laras berbicara pada langit, matanya berkaca-kaca namun tidak ada satu pun tetes yang jatuh. "Aku membenci kesempurnaanmu malam ini. Kau tampak begitu penuh, begitu bulat, seolah-olah keutuhan adalah sesuatu yang mudah dicapai. Padahal di bawahmu, segala sesuatu sedang patah."

Ia mulai merobek surat itu. Pelan. Sangat pelan. Suara kertas yang terbelah terdengar seperti jeritan kecil di telinganya. Satu sobekan untuk janji setia di bawah pohon kemboja. Satu sobekan untuk rencana pernikahan yang telah disusun rapi di kepala. Satu sobekan untuk setiap malam yang ia habiskan dengan memeluk bantal, membayangkan aroma tubuh Arga yang kini telah dicuri oleh parfum wanita lain.

Serpihan-serpihan kertas itu kini memenuhi telapak tangannya. Kecil, putih, dan tak berdaya. Laras melepaskan kepalan tangannya. Angin yang sedari tadi menunggu segera menyambar serpihan-serpihan itu, membawanya terbang, berputar-putar di udara seperti kunang-kunang yang kehilangan cahaya, sebelum akhirnya terjun bebas menuju ombak yang ganas.

Ada kelegaan yang aneh saat melihat "kesetiaan" itu dilarung. Kesetiaan yang tipis itu kini telah kembali ke alam, menjadi sampah laut yang akan dicerna oleh waktu. Laras merasa tubuhnya menjadi lebih ringan, seolah-olah beban berton-ton yang selama ini ia pikul telah ikut terbang bersama serpihan kertas itu.

Namun, lubang di dadanya tetap ada. Itu adalah ruang kosong yang ditinggalkan oleh keyakinan yang tumbang. Ia menyadari bahwa yang paling menyakitkan bukanlah pengkhianatan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa ia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya pada sesuatu yang begitu rapuh. Ia telah membangun istana di atas lembaran kertas, dan saat hujan turun, istana itu tidak hanya runtuh, ia lumat menjadi bubur.

Purnama mulai bergeser, sedikit demi sedikit menuju peraduannya. Bayangan beranda di lantai kayu mulai memanjang, tampak seperti jari-jari hitam yang berusaha menggapai kaki Laras. Ia berbalik, memunggungi laut dan bulan. Ia tidak ingin lagi menjadi penonton bagi keagungan yang palsu.

Di dalam rumah yang sunyi, ia menyalakan sebatang lilin. Cahayanya kecil, kuning, dan bergoyang-goyang ditiup angin yang masuk melalui celah jendela. Cahaya ini jauh lebih jujur daripada purnama. Ia kecil tapi nyata, ia panas tapi menghangatkan, dan yang terpenting, ia tidak berpura-pura menjadi abadi.

Laras duduk di kursi goyang peninggalan ibunya. Ia mengambil sebuah buku catatan kosong yang tersimpan di atas meja. Jemarinya menyentuh permukaan kertas yang masih putih bersih. Kertas ini juga tipis, sama tipisnya dengan surat dari Arga. Namun, Laras tersenyum getir.

"Kertas memang tipis," bisiknya pada bayangannya sendiri di dinding. "Tapi setidaknya aku tahu, aku bisa menuliskan ceritaku sendiri di atasnya. Bukan cerita tentang orang lain yang menjadikanku sekadar catatan kaki dalam hidupnya."

Malam semakin larut. Purnama di luar sana mulai tertutup awan hitam yang berarak pelan, seolah-olah semesta pun lelah memamerkan kemilau yang dingin. Di bawah temaram lilin, Laras mulai menulis. Bukan tentang Arga, bukan tentang pengkhianatan, dan bukan tentang kesetiaan yang setipis kertas.

Ia menulis tentang kekosongan yang akan ia isi dengan dirinya sendiri. Ia menulis tentang kekuatan yang tumbuh dari reruntuhan. Dan di atas kertas yang tipis itu, Laras mulai membangun sesuatu yang jauh lebih kokoh dari sekadar janji seorang lelaki: ia membangun harga dirinya kembali.

Sebab ia tahu, bahkan kertas yang paling tipis sekalipun, jika dilipat berkali-kali dengan penuh ketabahan, ia bisa menjadi cukup kuat untuk menopang beban sebuah harapan yang baru.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post