Cerita Ramadan (3) Pasar Cepit Magetan
Siang yang redup mengiringi putaran roda si Hijau, menuju ke pusat kota Magetan. Langit berwarna kelabu tipis, seakan meneduhkan perjalanan. Suasana kota Magetan, tepatnya di sebelah Utara Pasar Baru, areanya semakin luas, kawasan ini lebih tertata, bersih dan rapi menjadi pusat aktivitas ekonomi dan wisata yang lebih modern. Area parkir yang kini lebih luas menjadi salah satu daya tarik utama. Kendaraan roda dua maupun roda empat tertata dengan baik, tidak lagi berdesakan seperti dulu. Akses keluar-masuk pun lebih lancar, memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dan pengunjung.
Nampak saat saya duduk di area parkir terlihat suasana pasar terasa lebih lapang. Lorong-lorongnya tertata rapi, pencahayaan lebih terang, serta kebersihan yang semakin terjaga. Pandangan saya tertuju pada sebuah gang kecil di seberang jalan. Sekilas tampak sederhana, bahkan nyaris tak mencolok. Namun justru dari sanalah denyut kehidupan lama berdenyut, disitulah letak pasar legendaris yang oleh warga dikenal sebagai Pasar Cepit.
Tidak salah seperti yang saya bayangkan dari bangku tempat duduk saya, pastinya aroma rempah, sayur segar, dan jajanan tradisional bercampur menjadi satu. Sementara penjual jajanan menyapa setiap orang yang lewat dengan senyum tulus. Dari kejauhan, saya melihat seorang ibu paruh baya yang menjual jadah dan gethuk, wajahnya penuh keramahan sedang membungkus pesanan dari seorang pembeli. Di sini, transaksi bukan sekadar soal harga, melainkan juga tentang kepercayaan dan kedekatan.
Setelah semua yang dibeli tersimpan rapi di kantong belanja ibu negara, saya pun bergegas menuju mobil.Seorang tukang parkir yang sejak tadi mengatur kendaraan menghampiri saya. Wajahnya ramah, senyumnya tulus.
“Hati-hati, Pak,” sapanya sambil memberi aba-aba saat mobil hendak keluar. Saya mengambil uang, menyerahkan uang parkir sebagaimana mestinya. Namun ia menggeleng pelan.
“Tidak usah, Pak… matur nuwun, saya sudah kenal panjenengan,” katanya ringan, seolah itu hal biasa. Saya terdiam sejenak. Saya tetap menyelipkan uang itu ke tangannya, namun ia kembali menolaknya, tangannya terkatup di depan dada. Saya pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk, membawa pulang satu pelajaran kadang ketulusan hadir tanpa bisa kita balas dengan materi, hanya bisa kita hargai dengan doa dan rasa syukur. Ia adalah sahabat lama saya, yang sekarang bekerja sebagai tukang parkir di Pasar Baru Magetan.
//
Magetan, 21 Februari 2026
Salam literasi
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
