Susan Dewi Cahyono

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Ketika Air Belajar Bersabar
puisi

Ketika Air Belajar Bersabar

“Ketika Air Belajar Bersabar”

Di tanah yang tidak lagi rata oleh ingatan, pipa putih itu terbaring seperti terlupakan tanpa jejak. Air merembes pelan dari sambungannya, bening dan jujur, menelusuri kerikil, pecahan genting, dan pasir yang pernah menjadi rumah bagi langkah-langkah kecil. Ia tak berisik,hanya berbisik, seolah menceritakan kesabaran yang lama dipelajari alam.

Batu-batu basah berkilau sebentar, menangkap cahaya pagi yang ragu. Lumut hijau menempel setia di sudut semen, tanda hidup yang tak menunggu izin untuk tumbuh. Di antara pecahan putih dan merah bata, genangan kecil menjadi cermin yang tak sempurna, memantulkan langit dalam fragmen,seperti kenangan yang tersisa setelah hujan.

Sampah yang tertinggal bukan sekadar sisa, melainkan pengakuan: bahwa kita sering datang, memakai, lalu pergi tanpa menoleh. Namun air tetap mengalir. Tanah tetap menerima. Rumput-rumput kecil menyelinap di celah paling sempit, mengajari kita tentang harapan yang tak butuh panggung.

Di sini, keindahan tak berteriak. Ia hadir dalam kebocoran yang sabar, dalam tanah yang memeluk air, dalam hijau yang memilih hidup meski diinjak. Dan pada akhirnya, pemandangan sederhana ini berdoa diam-diam,agar manusia belajar mendengar, sebelum semuanya benar-benar kering.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post