MBG Di Madrasah Catatan Seorang Guru Tentang Amanah,Kepedulian, Dan Pendidikan Yang Menye
Oleh : Susan Dewi Cahyono
Mahasiswa S2 PAI UMSB
Sebagai seorang pendidik di madrasah, kita sering meyakini bahwa keberhasilan pembelajaran tidak ditentukan oleh metode mengajar, kelengkapan perangkat mengajar, atau kecanggihan media pembelajaran. Ada sesuatu yang lebih penting tapi sering luput dari perhatian yaitu kondisi fisik dan kesiapan siswa untuk belajar. Siswa yang lapar atau kurang gizi akan sulit berkosentrasi, sebaik apapun materi yang disampaikan. Dari pengalaman ini pendidik memandang Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekedar kebijakan pemerintah melainkan kerja keras dalam merawat amanah pendidikan. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 115 Tahun 2025 mengenai program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Program MBG membawa perubahan suasana yang berarti. MBG bukan hanya menghadirkan makanan ditengah aktifitas belajar tetapi menghadirkan kesadaran baru tentang pentingnya keteraturan,kepedulian dan tanggung jawab bersama. Sebagai guru tidak lagi hanya berdiri didepan kelas mengajar tetapi ikut terlibat dalam sebuah sistem yang mendidk melalui praktik nyata.
Tahapan pelaksanaan MBG di Madrasah, pertama pendataan jumlah siswa, lalu mendata makanan yang disukai dan makanan yang tidak disukai siswa yang membuat siswa alergi, hingga pengaturan waktu makan. Setelah selesai baru dikembalikan datanya ke dapur MBG yang dikelola oleh Satuan Pelayannan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Waktu Pelaksanaan MBG di madrasah, mobil pengantar MBG sampai di madrasah jam 11.50 WIB, peserta didik mengambil MBG ke aula sesuai petugas piket dikelas. Setelah itu makan diletakan diruang kelas. Setelah itu saya bersiap untuk sholat Zuhur berjamaah. Setelah selesai sholat Zuhur berjamaah siswa kembali kekelas untuk MBG bersama yang dibimbing guru yang mengajar dijam ke 7 jam 12.40 WIB.
Sebelum MBG siswa diharuskan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Setelah itu peserta didik duduk didalam kelas dan membaca doa sebelum makan, dipimpin oleh ketua kelas. Setealah itu siswa menyantap MBG. Guru yang mengajar dijam tersebut duduk didepan kelas melihat aktifitas siswa yang sedang MBG. Bila ada peserta didik yang tidak hadir maka MBG diserahkan kepada ketua kelas dan membagi kepada teman yang membutuhkan.
MBG harus dihabiskan disekolah dan tidak boleh dibawa pulang. Sesuai pelatihan daring yang diadakan oleh Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Keagamaan tanggal 26 November 2025 sampai dengan 30 November 2025 tentang Sosialisasi Kebijakan Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah.
Kegiatan ini menuntut ketelitian dan kerja sama antar guru. Kami belajar bahwa amanah sekecil apapun, termasuk satu porsi makan peserta didik, harus dipertanggungjawabkan. Kesalahan pendataan bukan sekedar soal administrasi tetapi menyangkut hak anak yang tidak boleh terabaikan. MBG secara tidak langsung mendidik guru untuk bekerja lebih tertib,jujur,dan profesional.
Madrasah menerima Ompreng dari SPPG bersih, tertutup rapi, dan berisi menu seimbang, Makanan tersebut bukan sekadar pengisi perut, tetapi wujud perhatian negara terhadap kesehatan anak-anak madrasah. Nilai halalan thayyiban yang selama ini pendidik ajarkan dalam teori, kini hadir dalam praktik yang bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh siswa.
Saat makanan tiba di madrasah, peran guru kembali menjadi penting. Kami memastikan jumlah ompreng sesuai, kondisinya layak, dan siap dibagikan tepat waktu. Dalam proses ini, saya merasakan bahwa MBG melatih pendidik untuk menjadi pendidik sekaligus pengawas sosial. Guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjaga sistem agar berjalan sesuai tujuan. Transparansi dan tanggung jawab menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.
Momen yang paling berkesan bagi pendidik adalah saat siswa makan bersama. MBG menjadi ruang pendidikan karakter. Anak-anak mencuci tangan, duduk rapi, membaca doa sebelum makan, lalu menikmati makanan dengan tertib. Pendidik melihat wajah-wajah peserta didik menikmati MBG dengan penuh semangat. Ada kebahagiaan sederhana yang tidak selalu muncul dalam kegiatan belajar formal.
MBG juga sebagai sarana menanamkan rasa syukur. Guru mengingatkan siswa MBG yang terima adalah nikmat Allah yang harus dijaga dan dihargai. Ketika ada siswa yang awalnya enggan memakan sayur, kami tidak memarahi, tetapi mendampingi dan menjelaskan manfaatnya dengan bahasa sederhana. Perlahan, kebiasaan itu tumbuh. MBG menjadi media dakwah kecil tentang hidup sehat dan bersyukur.
Selesai MBG, ompreng kembali disusun dan diikat seperti pertama kali diambil. Petugas piket langsung mengantar ompreng kembali ke Aula. Pembiasaan ini dilakukan setiap hari. Inilah pendidikan akhlak dalam bentuk paling nyata, bukan ceramah panjang, tetapi teladan dan rutinitas.
Dampak MBG juga terasa di ruang kelas. Siswa terlihat lebih fokus, tidak mudah mengeluh lapar, izin keluar untuk kekantin dan suasana belajar menjadi lebih kondusif. Perbedaan yang jelas terlihat antara mengajar siswa yang kenyang dan siswa yang lapar. Hal ini semakin menegaskan keyakinan guru bahwa pemenuhan gizi adalah bagian integral dari keberhasilan pendidikan.
MBG bukan tanpa tantangan. Ada kendala teknis, keterbatasan waktu, dan penyesuaian yang harus terus dilakukan. Namun, bagi guru, tantangan tersebut bukan alasan untuk menilai program ini sebagai beban. Justru di situlah letak pembelajaran bagi madrasah untuk terus berbenah dan melakukan evaluasi. Catatan harian, masukan siswa, dan koordinasi dengan penyedia makanan menjadi kunci agar program ini semakin baik.
Sebagai guru madrasah, pendidik memandang Makanan Bergizi Gratis sebagai bentuk kepedulian yang menyentuh langsung kehidupan siswa. Program ini mengingatkan guru bahwa pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga menjaga kesehatan, membangun karakter, dan menanamkan nilai kemanusiaan. Dari satu porsi makanan bergizi, guru melihat harapan akan lahirnya generasi yang sehat jasmani, kuat iman, dan siap menghadapi masa depan dengan akhlak yang mulia.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan